Tudingan Jin dan Genderuwo di Hotel Borobudur, Ketakutan Amien Rais tak Berlasan



908 Views

Jakarta – Penghitungan suara Pilpres di Hotel Borobudur sudah dua kali dilakukan. Pertama pada pemilu 2004. Saat itu pemenangnya adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Dan kedua kalinya pada pemilu 2009, pemenangnya pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Sedangkan pada pemilu 2014 penghitungan suara dilakukan di Kantor KPU. Pemenang Pilpres 2014 adalah pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.
Menjelang Pilpres 2019, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais mendadak membuat pernyataan yang menghebohkan. Ia menolak jika pemungutan suara pemilu 2019 dilakukan kembali di Hotel Borobudur. Amien menuding banyak hal ‘aneh’ di hotel tersebut.

Pihak KPU merespons penolakan Amien tersebut. KPU telah memutuskan tempat yang tepat buat penghitungan suara Pemilu 2019. Amien Rais bahwa tidak selamanya petinggi partai itu sama daya tahannya dan tak berkaitan dengan usia. Sederetan kontroversinya politik di usia senjanya berpotensi menimbulkan gejolak yang bepotensi menimbulkan korban bahkan dari pihak-pihak yang tak berkaitan dengan politik. Sudah saatnya sang empu Partai Allah lebih mendekatkan diri kepada keluarga dan agama daripada repot-repot menerawang Jin dan Genderuwo yang tak dapat dibuktikan.

Tim kampanye nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin menyebut pernyataan Amien Rais terlalu sensasional dan imajiner.

“Itu suatu pernyataan yang menurut saya sensasional dan imajiner,” ujar direktur program TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Aria Bima saat ditemui di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (27/3).

Aria mengatakan, rekapitulasi suara Pemilu 2019 ini terjadi di era teknologi, dimana semua orang bisa mengawasi jalannya penghitungan suara dengan memanfaatkan gawai dan sosial media. Sehingga dia tidak melihat adanya celah untuk melakukan kecurangan.

Hal tersebut, ujar Aria, sangat berbeda dengan sistem rekapitulasi suara Pemilu di tahun 1970a maupun 1980an yang memang tidak terkontrol dari berbagai komponen masyarakat.

“Jadi mau di KPU, mau di tengah Lapangan Banteng atau di (Hotel) Borobudur, kalau perlu di rumahnya Pak Amien Rais saja ya ndak ada soal. Karena ini eranya sudah sangat transparan, saksi 01, saksi 02, saksi parpol bahkan saksi dari masing-masing caleg juga mempunyai sistem untuk mengawal,” papar Aria.

“Jadi saya tidak terlalu khawtir bahwa akan ada perhitungan yang curang karena ini eranya era transparansi dengan teknologi. Di daerah mana pun bisa langsung didokumentasikan lewat alat dokumentasinya,” tambahnya.

Politisi PDI Perjuangan ini justru menilai pernyataan Amien Rais hanyalah salah satu cara untuk mendelegitimasi penyelenggara Pemilu jika nantinya jagoannya yaitu paslon 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kalah. “Dan itu hanya salah satu opsi dia kalau sampai terjadi kecurangan, kalau sampai jagonya 02 kalah bs dijadikan alasan klo itu dicurangi,” imbuhnya