Tol Langit Salah Satu Faktor Akselerasi Pemerataan Pembangunan



2,395 Views

Proyek ambisius Palapa Ring yang terbagi dalam 3 paket Barat, Tengah dan Timur kini telah rampung. Palapa Ring merupakan proyek pembangunan jaringan serat optik yang mengitari 7 pulau di Indonesia, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Paket barat mencakup Riau dan Kepulauan Riau dengan panjang kabel sekitar 2.000 km. Sementara paket tengah menjangkau Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku utara dengan panjang kabel sekitar 2.700 km. Namun yang paling berat dan paling lama pembangunannya adalah paket timur karena panjang kabel serat optik mencapai 8.500 km, juga medan yang harus dilalui terbilang sulit yaitu Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, Papua.
https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2019/10/13/9c029cf1-9592-45c2-b53e-5c4d415411f8.jpeg?a=1

Setelah melewati proses panjang dan kemudian diresmikan Presiden Jokowi pada Senin, 14 Oktober 2019 lalu Tol Langit bisa beroperasi. Lantas apa istimewanya?

Proyek ini memang belakangan dijuluki Tol Langit sebagai perumpamaan yang dimaksudkan Menkominfo Rudiantara sebagai kehadiran sinyal yang membuat masyarakat Indonesia bisa lebih mudah berkomunikasi satu sama lain, baik di perkotaan maupun pelosok, berkat eksistensi infrastruktur telekomunikasi.

Tol langit juga akan menciptakan banyak titik atau node yang terhubung ke suatu jaringan seperti yang disebut dalam Hukum Metcalfe (Metcalfe’s Law), makin banyak titik tersebut maka nilai ekonomisnya akan semakin besar. Misalkan ada n node yang terhubung dalam suatu sistem jaringan, maka nilai ekonomis dari jaringan tersebut adalah n kuadrat. Artinya kita bisa mendapatkan nilai tambah yang lebih dari system tersebut, misalnya saja masalah efisiensi waktu, efektifitas kerja, dan sebagainya.

Hukum Metcalfe dirumuskan oleh Dr. Robert M. Metcalfe, pencipta ethernet pada tahun 1976 yang dikembangkan dari Arpanet 1973 yang menjadi dasar teknologi Internet saat.

Seperti yang kini terjadi akibat pembangunan masif infrastruktur internet, kini Amerika Serikat yang paling menikmati kue ekonomi dari industri digital itu sendiri. Indonesia setelah memasifkan infrastruktur jalan darat, tol laut dan membangun berbagai bandara dengan target kawasan ekonomi khusus baik industri maupun wisata, kini semakin mendekati kemajuan Amerika setelah Tol Langit ini beroperasi.

Kementerian Koordinator Perekonomian optimis kehadiran tol langit akan meningkatkan ekonomi berbasis digital.
“Ini akan meningkatkan ekonomi berbasis digital,” ujar Asisten Deputi Telematika & Utilitas Kementerian Koordinator Perekonomian, Eddy Satriya di Jakarta.

Dipaparkan Eddy, sejak 2012 sampai 2017, sektor ICT memberikan pertumbuhan di atas 7%. Angka tersebut terus tumbuh pada tahun berikutnya.

“Selalu tumbuh double digit, kecuali pada tahun 2018 yang tumbuh 7,17%,” kata dia.

Diketahui, saat ini ekonomi digital Indonesia naik empat kali lipat dibanding tahun 2015 menjadi USD 40 miliar pada tahun 2019.

Sampai tahun 2025, Eddy mengatakan, ekonomi digital RI bisa menyentuh USD 130 miliar dengan keberadaan layanan ride hailing, e-commerce, hingga digital payment.

Berbicara kemungkinan tumbuhnya unicorn baru pada tahun 2020, Eddy mengaku tidak bisa memprediksikannya. Sekedar informasi, Indonesia memiliki startup bergelar unicorn yang di antaranya Gojek, Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, dan Ovo.

Namun walaupun mampu menciptakan unicorn baru di Indonesia sekaligus penyerapan besar-besaran tenaga kerja lokal, Tol Langit juga muncul tiga konsep Pertama muncul konsep pemerataan sinyal, kedua harga layanan internet akan lebih terjangkau, dan ketiga terciptanya pertumbuhan ekonomi digital.

“Konsep pemerataan, sinyal 4G sampai pelosok akan bisa terealisasikan. Selanjutnya, bagaimana juga operator bisa memanfaatkan dan menjual layanannya dengan harga terjangkau,” terangnya saat berbicara di Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9, Jakarta, Senin (15/10).

Kehadiran operator di berbagai wilayah tulang punggung Palapa Ring berarti semakin meningkatkan dan pemerataan node/titik komunikasi yang tercipta dan sesuai hukum Metcalfe pada gilirannya akan menumbuhkan ekonomi setempat dan ekonomi nasional secara keseluruhan secara quadratical.

Berkembangnya sektor ekonomi digital ini tidak lepas dari perubahan peran pemerintah. Pemerintah yang selama ini sebagai regulator berubah peran menjadi fasilitator dan akselerator. Inilah yang diyakini memegang peran penting dalam pengembangan ekonomi digital.

“Sejak pemerintahan baru (dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi), pemerintah tidak lagi berperan sebagai regulator tapi lebih kepada fasilitator dan akselerator,“ kata Menteri Rudiantara.