Tak Terkait Pilpres, Gelar Pahlawan AR Baswedan Murni karena Jasa-Jasanya

Tak Terkait Pilpres, Gelar Pahlawan AR Baswedan Murni karena Jasa-Jasanya

Almarhum Abdurrahman Baswedan akhirnya resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional RI oleh Presiden Joko Widodo.

Gelar Pahlawan Nasional kakek dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan ini sudah diusulkan sejak 2012 lalu.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Arya Sinulingga mengatakan, penganugerahan terhadap kakek Anies Baswedan tak ada kaitannya dengan Pilpres 2019.

“Kalau dia dijadikan pahlawan emang Mas Anies langsung pindah (pindah dukungan ke Jokowi). Kan enggak,” ujar Arya di Posko Rumah Cemara, Jakarta, Kamis (8/11).

Menurut politikus Partai Persatuan Indonesia (Perindo) ini, yang dilakukan oleh Presiden Jokowi tidak melihat latar belakang ataupun sentimen pribadi. Melainkan lebih karena jasa-jasanya.

“Jadi ini memang menunjukan bahwa Pak Jokowi kalau memang layak ya harus dikasih, tidak boleh ditunda-tunda,” katanya.

Arya menambahkan bahwa hubungan Anies dengan Jokowi sangar baik dan tidak ada permusuhan diantaranya, Ia pun menilai jika gelar itu memang layak diberikan.

AR Baswedan adalah salah satu dari enam tokoh yang dianugerhai gelar Pahlawan Nasional di Era Jokowi.

Keputusan penganugerahan gelar pahlawan nasional itu termaktub dalam Keputusan Presiden Nomor 123/TK/2018. Keputusan itu ditandatangani Presiden Jokowi pada 6 November 2018 dengan pedoman Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Pemberian gelar tersebut disambut baik Anies Baswedan yang mewakili kakeknya untuk menerima anugerah itu. Anies menilai, kebijakan Presiden Jokowi ini menjadi penyemangat bagi dirinya dan generasi muda melanjutkan perjuangan.

“Proses ini mulai tahun 2012. Alhamdulillah kita bersyukur bahwa pemerintah menganugerahkan itu (gelar pahlawan) dan ini amanat bagi kita semua untuk meneruskan perjuangan,” kata Anies di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (8/11).

Selain kakek Anies, lima orang lainnya adalah mantan Menteri Pekerjaan Umum Pangeran Mohammad Noor, pejuang dari Sulawesi Barat Agung Hajjah Andi Depu, dan Pendiri Perguruan Tinggi Islam Al Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon, Brigjen TNI (Purn) KH Syam’un.

Tokoh lainnya yang dianugerahi Pahlawan Nasional ialah Jaksa Agung periode 1945-1946 Kasman Singodimedjo yang juga menjabat Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II serta Ahli Strategi Perang melawan Belanda di Bangka Belitung, Depati Amir.