Provokator Perkeruh Situasi Aksi 22 Mei



155 Views

Kejayaan Indonesia kembali tersungkur ditangan para elit politik gila yang haus akan kekuasaan tanpa menghormati konstitusi yang sejatinya ditaati.

Buah dari sikap keegoisan itu kini telah mengoyak persatuan dengan seruan jihad menolak hasil rekapitualsi Pemilu dan mengerahkan massa turun ke jalan.

Hasilnya, pengerahan massa itu membuahkan bentrok kelompok massa dengan aparat. Para pendemo tampak melempari aparat dengan batu dan juga petasan, sementara aparat berjaga dengan menggunakan tameng.

Akibat aksi tersebut, jalanan tak bisa dilewati dan melahirkan ketakutan baru.

Hal itu bisa dicegah bahkan tak pernah terjadi jika Capres Prabowo dan para pendukungnya lebih mendewasakan diri dan menerima kenyataan dengan mengakui kekalahan dan jika tak menerima masih ada jalan lain dengan menempuh jalur konstitusi ke Mahkamah Konstitusi.

Seperti yang sudah-sudah, aksi massa akan selalu dibayangi provokator untuk memperkeruh situasi sementara aparat keamanan telah mengamankan aksi dengan baik tanpa ada gesekan dengan massa.

Selasa, 21 Mei 2019 sekitar 23.30 WIB sekitar 300 orang massa aksi di depan Kantor Bawaslu Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat.

Di depan Bawaslu, Polisi sempat mundur setelah massa aksi Bawaslu terus menerus melempar batu dan petasan ke arah mereka. Aparat mundur hingga ke muka jalan Wahid Hasyim, sambil sesekali melepaskan tembakan air mata.

Pendemo melakukan aksi provokasi dengan cara merusak kawat berduri dan meneriakkan takbir di depan barikade Aparat Keamanan.

Kemudian sekitar pukul 23.35 dilakukan tindakan pembubaran diserta penangkapan terhadap sekitar 20 orang massa.

Saat ini massa yang yang ditangkap diamankan di Pos Pengamanan Bawaslu untuk dilakukan pendataan.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Harry Kurniawan mengatakan jika sekelompok orang yang sempat kembali turun ke jalan dan beristegang dengan aparat kepolisian buka dari kelompok massa aksi damai Bawaslu.

“Mereka bukan massa aksi damai Bawaslu yang tadi, nanti kita akan dalami lagi,” kata Kombes Harry, Selasa (21/5/2019).

Sebelumnya kericuhan ini terjadi ketika aksi damai usai dan beberapa aparat kemanan dan kendaraan taktik polisi telah meninggalkan lokasi. Kericuhan berawal massa aksi yang menantang kepolisian dan berseru untuk terus merapatkan barisan.

“Ayo tetap rapatkan barisan, jangan pada takut,” teriak para massa aksi di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Aksi pun meluas ke Jalan KS Tubun hingga tidak bisa dilewati. Begotu pun di Jalan Jatibaru, tepatnya jalan ke arah asrama Polri.

Salah satu warga bernama Warno (36). Saat melintas di lokasi ini dia melihat massa sempat melakukan aksi kekerasan di sepanjang lokasi. Massa yang brutal memblokade jalan. Tak hanya lemparan batu beterbangan bom molotov pun turut meramaikan ketakutan.

Aksi massa terkait hasil Pilpres 2019 cukup jelas siapa dalangnya. BPN Prabowo-Sandi harus bertanggung jawab, dimana selama ini mereka keras menyuarakan mobilisasi massa.

Masyarakat hendaknya tidak ikut dalam aksi 22 Mei 2019 karena massa hanya dimanfaatkan oleh BPN Prabowo-Sandi untuk menciptakan kekisruhan agar seolah-olah rakyat menolak Pemilu, padahal massa aksi berasal dari BPN Prabowo-Sandiaga.