Provokasi Pendukungnya, Prabowo Tuduh Lembaga Survei Pembohong



480 Views

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengatakan bahwa lembaga survei adalah tukang bohong yang sudah tidak bisa lagi dipercaya oleh rakyat. Atas dasar itu, Prabowo meminta agar lembaga survei pindah ke negara atau benua lain, salah satunya Antartika.

“Hei tukang bohong, rakyat tidak percaya sama kalian. Mungkin kalian harus pindah ke negara lain. Mungkin kau bisa pindah ke Antartika,” tegas Prabowo kepada pendukungnya di kediaman pribadi, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Jumat (19/4).

Pernyataan sikap yang penuh emosional ini mencerminkan Pdiri Prabowo yang tak mau menerima kekalahan alias tak legowo. Padahal, hasil hitung suara sementara di Sistem Informasi Penghitungan Suara (SITUNG) KPU hingga Jumat sore, (19/4/2019) menunjukan calon presiden 01 Joko Widodo masih unggul atas rivalnya Prabowo-Sandi.

Data itu diambil dari formulir C1 yang masuk dan masih berada di kisaran 2,4 persen atau 19.680 TPS dari 813.350 TPS seluruh Indonesia. Hingga pukul 16.45, hasil hitung suara yang ditayangkan di website pemilu2019.kpu.go.id itu menunjukan pasangan Jokowi–Ma’ruf memperoleh 55,14 persen atau 2.062.784 suara.

SITUNG merupakan sistem penghitungan yang dilakukan KPU dengan cara mengunggah formulir C1 di setiap TPS. SITUNG ini dipergunakan untuk menampilkan hitung suara atau real count berdasar formulir C1.

Prabowo seharusnya tidak mengkerdilkan hasil survei dan menuding pihak lembaga survei sebagai pembohong hingga KPU merilis hasil resmi Pemilu 2019.

Sebab, hasil hitung memiliki dasar hukum yang jelas sebagaimana termuat dalam PKPU No. 10/2018. Sehingga tudingan Prabowo terhadap lembaga survei telah mendeligitimasi PKPU No. 10/2018.

Dengan demikian, Prabowo telah memprovokasi para pendukungnya agar hanya mempercayai klaim kemenangannya secara sepihak, meskipun kubunya tidak berani membuka data yang dimiliki.

Sikap Prabowo yang mengkritik lembaga survei hanya karena capres nomor urut 02 itu berada dalam posisi yang kalah.

Perlu diingat, pada Pilgub DKI Jakarta 2017, saat Anies-Sandi berhadapan dengan Ahok-Djarot, Prabowo menyatakan kemenangan Anies-Sandi berdasarkan hasil quick count yang juga ditayangkan seluruh media, dengan lembaga survei yang sama seperti saat ini untuk Pilpres 2019.