Presiden Bangga Tak Terdengar Lagi Kepala Daerah Mengeluh Masalah Listrik



53 Views

Rasio elektrifikasi 97 % yang dicanangkan Presiden Jokowi selama masa pemerintahannya hingga tahun 2019 tak terasa mulai terwujud. Segala kendala alam seperti di pelosok Papua dan Kalimantan maupun kendala geografis seperti di Maluku dan kepulauan Riau tidak menjadi halangan berarti.

Mengalirkan listrik hingga ke pelosok negeri telah menjadi fokus Presiden Jokowi. Konsistensi dalam membangun infrastruktur kelistrikan juga menghasilkan berbagai proyek yang selesai tepat waktu untuk menyediakan pasokan listrik bagi seluruh masyarakat Indonesia secara merata.

“Listrik, ujar Jokowi, penting buat perekonomian. Karena listrik menjadi kebutuhan industri, perhotelan, dan pariwisata.”

“Jadi, saya terus kejar ke Pak Menteri ESDM, Bu Menteri BUMN, Dirut PLN agar kecukupan itu betul-betul kita cukupi,” kata Jokowi saat meresmikan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 7, di Desa Terate, Serang, Banten, Kamis (5/10/2017).

Bahkan Presiden berani menyatakan bahwa keluhan daerah seperti gubernur dan bupati tentang kesulitan listrik tidak terdengar lagi. “Saya ngomong apa adanya ya. Enggak dengar (tentang kesulitan listrik),” tegas Jokowi meyakinkan.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Jokowi juga menyatakan keprihatinannya kepada anak-anak sekolah yang pada malam hari belum dapat mengulangi pelajaran yang didapatkannya di sekolah. “Biar anak kita bisa belajar malam hari dan bisa dipakai juga untuk investasi hotel, pabrik-pabrik yang butuh listrik. Tapi yang paling penting, malam hari anak-anak bisa belajar,” kata Jokowi.

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini masih banyak anak-anak, terutama di daerah pelosok yang kesulitan untuk belajar di malam hari. Belum semua dari mereka sudah mendapatkan pasokan listrik selama 24 jam penuh.

Oleh karena itu selain meminta kepada kementerian ESDM untuk terus berupaya melistriki berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia, Presiden juga meminta agar tarif listrik bisa terus terjangkau oleh masyarakat. Tarif listrik terjangkau itu misal dengan menerapkan efisiensi. “Saya juga titip, ini masalah efisiensi, agar semua biaya-biaya itu dicek betul secara detil baik yang harga batubara, baik yang biaya transportasi angkut batubara, jangan dibolak-balik sehingga ongkos transportasinya jadi tinggi terus enggak jadi efisien. Bebannya nanti yang tanggung masyarakat,” harap Jokowi.

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7, PLTU Jawa 9, PLTU Jawa 10 dengan total kapasitas 4.000 Mega Watt (MW) di Serang yang diresmikan Presiden disebut bahkan mampu menyerap tenaga kerja hingga 10.000 orang.