Prabowo Penjahat HAM Kejam yang Tak Pernah Diadili



Bataraonline – Generasi milenial abad ini tidak banyak yang mengetahui kekejaman calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subiatno, karena memang cerita kebiadaban tahun 1983 di Timor Leste, saat ratusan nyawa baik orang tua maupun anak-anak melayang tanpa perikemanusiaan tertutup oleh kebisuan di zaman orde baru (Orba).

Kasus penculikan aktivis 1998 adalah satu kisah pelanggaran HAM yang paling dikenal dan selalu teringat oleh publik. Semua jurnalis mengetahui tentang penculikan di tahun 1998 yang mengakhiri karir militer Prabowo.

Namun, sedikit tampaknya yang mengetahui operasi di Timor Leste pada awal karirnya tahun 1983. Ketika jurnalis Jakarta Post, Aboeprijadi Santoso, mengingatkan pada Desember lalu, Prabowo mengirimkan surat pembaca yang menyatakan bahwa hal tersebut merupakan “tuduhan yang tidak terbukti.” Lalu apa saja yang dapat kita ketahui dengan jelas tentang keterlibatannya pada peristiwa-peristiwa tersebut, dan apa yang perlu lebih dipastikannya?

Apa keterlibatan Prabowo dalam kejahatan tahun 1983?

Sesungguhnya rentetan kesadisan Prabowo terhadap manusia seperti di Timor Leste lebih berat dari tragedi 1998.

Secara keseluruhan, tercatat 530 nama orang yang dibunuh atau hilang selama operasi kontra perlawanan yang berlangsung hingga tahun 1984 di seluruh Timor Leste. Sejumlah besar orang yang selamat dari Gunung Bibileo juga meninggal dunia akibat kelaparan di kamp konsentrasi yang dijaga ketat aparat militer.

Kala itu, Prabowo tiba di Timor Leste dalam rangkaian ketiga tugasnya pada tanggal 28 Agustus 1983, bersama-sama dengan Unit Chandraca 8 dari Kopassandha yang dipimpinnya. Jill Jolliffe, dalam bukunya Cover-up: the inside story of the Balibo Five (2001), mengutip seorang saksi mata yang melihat Prabowo menjelajahi Gunung Bibileo dengan pasukannya pada awal September, sebelum pembantaian besar pertama. Levantamento terjadi kurang dari satu bulan sebelumnya. Dia tetap di wilayah timur di sekitar Gunung Bibileo sampai awal tahun 1984.

Mereka yang selamat dari kengerian ini kemudian menghadapi lebih banyak penderitaan di bulan-bulan berikutnya. Setiap orang yang pernah tinggal atau bersembunyi di Gunung Bibileo dipindahkan ke kamp konsentrasi di Lalerek Mutin, dekat Kraras yang kemudian ditinggalkan di dataran barat dari Viqueque. Sebanyak 1.300 jiwa, sebagian besar perempuan, anak-anak dan orang tua, terus dikawal ketat oleh penjaga Chandraca sehingga mereka tidak dapat mengelola kebun penghidupan mereka. Kelaparan hebat menimpa mereka. Salah satu saksi mata mengatakan kepada CAVR: “Aku ingat empat atau lima orang meninggal setiap hari. Kami hanya membungkus mereka dengan tikar dan menguburkan mereka.”

Prabowo memainkan peran sentral dalam operasi kontra perlawanan di Timor Leste sehingga berujung pada promosi dari kapten ke Mayor di saat usianya masih 32 Tahun. Laporan CAVR yang menggambarkan kekejaman secara rinci dan mengerikan di masa keterlibatan Prabowo belum pernah disebutkan dalam publikasi umum Indonesia, apalagi ditindak oleh petugas peradilan Indonesia.

Karena kecerdasan Prabowo dan pernikahannya dengan anak dari peguasa orde baru Soeharto, Siti Hediati Harijadi (Titiek), pada bulan Mei 1983, membuka akses kepada presiden yang membuat iri sesama rekan militernya. Dia mampu berperilaku melampaui pangkat dan jabatannya.

Kebisuan ini memungkinkan Prabowo untuk mengklaim tuduhan tidak terbukti, apalagi jika kelak terpilih menjadi Presiden. Dipastikan akan lenyap bersama dengan kasus-kasus lain yang melekat pada dirinya

Beberapa kasus Prabowo di masa lalu yang belum terungkap dan tak mau diungkap serta keinginannya untuk menjadikan Indonesia seperti Orde Baru adalah indikasi kemunduran bangsa dimana segala keterbatasan akan kembali dirasakan. Masyarakat terutama generasi milenial perlu mempertimbangkan kembali untuk memilih Prabowo.