PPP Nilai Masuknya Prabowo di Kabinet Jokowi Bukti Teori Oposisi-Koalisi Tak Berlaku di Indonesia

PPP Nilai Masuknya Prabowo di Kabinet Jokowi Bukti Teori Oposisi-Koalisi Tak Berlaku di Indonesia

270 Views

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memenuhi undangan Presiden Joko Widodo untuk datang ke Istana Negara pada hari pengenalan calon menteri.

Presiden Jokowi memintanya untuk membantu di bidang pertahanan. Oleh karena itu, Jokowi pun memberikan pengarahan kepada Prabowo.

Prabowo bahkan menyatakan komitmennya akan membantu di Kabinet Kerja Jilid II. “Saya akan bekerja sekeras mungkin mencapai sasaran. Dan harapan yang ditentukan. Saya kira demikian,” kata Prabowo.

Jokowi memang cerdik karena menempatkan Prabowo sebagai pembantunya yang harus tunduk pada otoritas dirinya sebagai Pemimpin Sipil. Yang jelas sebagai Presiden Sipil maka Prabowo harus dan wajib tunduk. Prabowo berada di bawah kekuasaan Presiden Jokowi.

Wasekjen PPP Achmad Baidowi memandang positif bergabungnya Gerindra ke koalisi Jokowi. Namun, untuk urusan kabinet, PPP menyerahkan sepenuhnya kepada Jokowi.

PPP juga menilai bahwa kedatangan Prabowo menjadi bukti bahwa teori ‘oposisi-koalisi’ tidak selamanya berlaku di Tanah Air.

“Itulah uniknya demokrasi di Indonesia bahwa teori koalisi-oposisi tak sepenuhnya bisa diterapkan di Indonesia. Hal itu karena semangat kegotongroyongan dan kemufakatan untuk bersama-sama membangun bangsa,” kata Baidowi kepada wartawan, Senin (21/10/2019).

PPP, tambah Baidowi memaknai dalam perspektif positif bahwa bergabungnya Gerindra ke koalisi untuk merajut kebersamaan demi tercapainya cita-cita besar Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045.

Menurutnya, jika terus-terusan larut dalam perselisihan, maka justru tidak produktif. Apalagi Pak Jokowi sudah menegaskan bahwa Gerindra akan bergabung ke koalisi.

“Dan sebagaimana kami tegaskan sejak awal, urusan kabinet dan koalisi merupakan hak prerogatif Jokowi,” jelas politikus yang kerap disapa Awiek ini.