Polri-TNI Terus Buru KKB di Papua



17 Views

Bataraonline – Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) wilayah Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua diperkirakan memiliki belasan pucuk senjata api yang selama ini digunakan melakukan teror penembakan terhadap kendaraan dan fasilitas milik PT Freeport maupun perlawanan kepada aparat.

Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar mengungkapkan, KKB kini berbaur dengan masyarakat di beberapa kampung wilayah itu berasal dari dua kelompok. Jumlah personel diperkirakan sebanyak 30-an orang. “Mereka punya senjata api antara 10-15 pucuk,” ujarnya di Timika, Senin (6/11/17).

Boy mengakui bahwa upaya pengejaran kelompok tersebut hingga kini masih terhambat lantaran mereka selalu bersembunyi dibalik lereng-lereng bukit terjal.

Ia mengatakan KKB menggunakan cara gerilya sehingga polisi dan TNI kesulitan untuk mengejar dan menumpasnya.

“Habis ganggu lari, habis ganggu lari. Mereka pintar lari dan bersembunyi di bukit-bukit karena mungkin sudah kebiasaan. Tapi pasti kami akan kejar terus,” katanya.

Saat ini pasukan Brimob dibantu TNI sudah berada di area Tembagapura untuk melakukan pengejaran terhadap anggota KKB yang sering melakukan aksi teror penembakan di wilayah tersebut.

Kelompok tersebut diketahui membakar sejumlah gubuk liar milik pendulang emas tradisional di sepanjang bantaran Kali Kabur dekat perkampungan Utikini Lama dan Kimbeli, Distrik Tembagapura. Keberadaan gubuk-gubuk liar itu sebenarnya telah ditertibkan aparat karena dianggap dapat membahayakan keselamatan pendulang emas tradisional.

“Yang mereka bakar itu rumah-rumah kayu di pinggir sungai yang dibuat oleh para pendulang. Itu memang daerah terlarang, tapi selama ini para pendulang bandel. Rupanya mereka juga menjadi sasaran kelompok ini,” kata Kapolda.

Aparat pun telah meminta para pendulang tradisional untuk segera meninggalkan kawasan pendulangan emas tradisional di sepanjang aliran Kali Kabur guna memudahkan melakukan pengejaran KKB. Namun, lanjut Boy menjelaskan permintaan atau ultimatum tersebut belum ditanggapi para pendulang emas tradisional.

“Pendulangnya tidak mau, kita sudah imbau tapi mereka tidak mau. Mungkin karena di situlah lokasi mereka mencari makan, padahal daerah di sepanjang bantara kali itu sangat berbahaya. Sudah beberapa kali kejadian longsor sampai menelan korban jiwa,” ujar Kapolda.

Sudah saatnya, aparat keamanan untuk menertibkan kepemilikan senjata api ilegal agar tidak menimbulkan instabilitas keamanan di wilayah Papua yang mengancam keselamatan warga disana dan mengganggu instabilitas keamanan NKRI.