Polisi Analisa Video Provokasi Pengerahan Massa Eks Danjen Kopassus Tutup KPU, Istana Negara dan DPR



656 Views

Sosok yang diduga mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Denjan Kopassus) Mayjen TNI (Purn) Soenarko kini tengah menjadi perhatian aparat kepolisian pasca sebuah video soal mobilisasi massa untuk “tutup KPU, Istana, dan DPR” beredar di media sosial.

Dalam video itu, pria yang diduga mantan Danjen Kopassus itu melontarkan soal rencana aksi mengepung KPU pada saat hari penetapan penghitungan suara Pemilu 2019 pada 22 Mei.

“Di situ kita cuma duduk, kita duduk, ya tutup, diharapkan kalau tanggal 20 baru datang 100 ribu, tanggal 21-nya sudah jadi 500 ribu, satu juta, maka kita kalau habis ini pulang ke daerah bisa mungkin merancang itu, kita rancang itu,” kata Soenarko dalam video tersebut.

“Nanti kalau tanggal 22 diumumkan, kalau Jokowi menang, yang kita lalukan tutup KPU, tutup, kemudian mungkin ada tutup Istana dengan DPR, Senayan, kita enggak ada ke Monas, tapi dalam jumlah besar, kalau jumlah besar polisi juga bingung,” katanya lagi.

Ia juga mengatakan jika nanti Prabowo menang maka dirinya mengajka untuk menggelar syukur bersama di tempat itu.

“Kalau nanti kebetulan diumumkan 02 ya kita syukuran aja di situ,” ucap Soenarko.

Soenarko diketahui pernah menjabat sebagai Danjen Kopassus pada tahun 2007-2008. Ia diketahui juga pernah menjabat sebagai Pangdam Iskandar Muda pada tahun 2008-2009.

Saat ini Kepolisian tengah menyelidiki video yang viral tersebut.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan saat ini Direktorat Siber Bareskrim Polri tengah menganalisis soal kebenaran video tersebut.

“Sudah saya informasikan ke Direktorat Siber, masih dilakukan analisis,” kata Dedi di Mabes Polri, Rabu (15/5).

Dedi menambahkan, pihaknya juga menunggu laporan dari masyarakat terkait video tersebut.

“Masih ditunggu (pelaporan), jadi setiap ada dugaan peristiwa seperti itu, Direktorat Siber lebih banyak menganalisis terlebih dahulu,” ujarnya.

Saat ini masyarakat sangat mendukung kerja Polri untuk mengusut video tersebut karena berniat merusak demokrasi dan menciptakan kegaduhan. Untuk itu pihak kepolisian segera mengusut dan mengadili pela
ku sesuai aturan hukum yang berlaku.