Perluas Pasar Ekspor Kemenperin Dorong Industri Mainan



866 Views

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mendorong industri mainan untuk menggenjot produksi, daya saing, sekaligus ekspor.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih mengatakan industri mainan mampu memberikan kontribusi cukup signifikan bagi pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional.

“Kami sampaikan ekspor mainan sepanjang 2018 mencapai US$ 381,2 juta, naik 16,57% dari 2017 sebesar US$ 347 juta,” kata Gati saat melakukan kunjungan kerja ke PT Sinar Harapan Plastik (SHP) di Jakarta, Selasa (7/5).

Terkait upaya menggenjot ekspor produk mainan nasional, Ditjen IKMA telah melakukan kerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan adanya fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

“Ini menjadi kesempatan bagi para pelaku IKM untuk memperluas pasar ekspornya, dengan memperlancar proses produksi mereka,” ujarnya.

Agar kinerja sektor industri mainan semakin produktif dan berdaya saing di tingkat global, Kemenperin lanjut Gati telah mengusulkan mengenai pemberian insentif berupa super deductible tax. Selain itu, sektor industri mainan juga dapat memanfaatkan fasilitas fiskal berupa bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP). Hal tersebut menunjukkan Pemerintah memberi perhatian pada pengembangan industri mainan.

Bahkan, dalam upaya melindungi produk dan pasar dalam negeri serta menghindari gempuran produk impor yang tidak berkualitas, pemerintah menerapkan pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) mainan anak secara wajib.

Gati mengapresiasi kinerja SHP dalam memenuhi kebutuhan produk mainan di pasar domestik dan ekspor. Saat ini, 20% dari total produksi mainan SHP untuk ke luar negeri dan sisanya 80% guna memenuhi permintaan dalam negeri.

“Ini berarti demand dalam negeri masih bagus, dan kami juga mendorong agar bisa terus ekspor,” ujarnya.

SHP merupakan produsen mainan anak dengan merek SHP Toys untuk pasar domestik dan merek Winny Will untuk pasar mancanegara. Produk yang dihasilkan perusahaan ini adalah mobil-mobilan dan sepeda mainan tunggang berbahan plastik atau sering disebut dengan plastic injection.

Kapasitas produksi SHP saat ini mencapai sekitar 120.000 pcs per bulan dan menyerap tenaga kerja hingga 500 orang yang didominasi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Ini sejalan dengan program prioritas pemerintah dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM), yang salah satunya adalah mendorong pendidikan vokasi,” jelas Gati.

Saat ini industri mainan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional, terlebih lagi industri mainan tergolong sektor padat karya berorientasi ekspor yang secara keseluruhan telah menyerap tenaga kerja sebanyak 23.644 orang.