Penyerangan terhadap Wiranto Adalah Perbuatan Biadab yang Tidak Sesuai dengan Agama

Penyerangan terhadap Wiranto Adalah Perbuatan Biadab yang Tidak Sesuai dengan Agama

215 Views

Sejumlah tokoh masyarakt menyoroti kasus penusukan terhadap Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto. Hal itu menjadi catatan penting bagi aparat keamanan khususnya Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Polisi dalam hal ini diharapkan tak perlu ragu dalam mengambil tindakan tegas terhadap pelaku terorisme dan radikalisme. Sekalipun aparat keamanan kerap dibenturkan pada isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU, Robikin Emhas mengatakan, penyerangan yang dilakukan kelompok radikal terhadap Wiranto adalah perbuatan biadab yang tidak sesuai dengan agama atau kepercayaan apa pun.

“Pak Wiranto selaku Menko Polhukam merupakan pengemban amanah di bidang keamanan negara, sehingga yang diserang adalah simbol negara. Itu artinya, yang diserang hakikatnya adalah keamanan negara, rasa aman masyarakat. Untuk itu saya mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan mengusut tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut,” ujarnya, Jumat (11/10/2019).

Ia menegaskan peristiwa yang menimpa Wiranto agar tidak ada yang mengaitkan dengan masalah agama.

“Jangan ada yang mengaitkan dengan Islam. Karena Islam adalah agama damai, rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin). Islam pasti mengutuk segala bentuk kekerasan seperti ini,” jelasnya.

Sementara itu, Budayawan dan rohaniawan Romo Benny Soesatyo juga menyatakan dukungannya kepada aparat kepolisian dalam menindak tegas para pelaku terorisme. Polisi tak perlu gusar dicap sebagai pelanggar HAM dalam melakukan penindakan terhadap pelaku terorisme.

“Karena justru kekerasan yang dilakukan para teroris itu sendiri yang merupakan pelanggaran HAM, Karena itu aparat harus tegas dalam memerangi para terorisme dan radikalisme ini,” tegas Benny.

Staf Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ini mengatakan segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan oleh ajaran agama manapun.

Ia pun mengimbau seluruh elemen masyarakat, termasuk kaum muda untuk lebih arif dalam menggunakan media sosial. “Masyarakat harus bersatu melawan radikalisme dan jangan member ruang kosong kepada para pelaku, apalagi sampai kehilangan rasionalitas dan malah mendukung aksi tersebut,” kata dia.