Peniti Memacu Revolusi Industri 4.0 dan Semakin Optimis

Peniti Memacu Revolusi Industri 4.0 dan Semakin Optimis

672 Views

Bangsa Indonesia saat ini hidup di era Revolusi Industri 4.0. Era yang diwarnai oleh kecerdasan teknologi yang membawa perubahan dengan cepat dan berdampak pada ekonomi.

Di Indonesia sendiri, kehadiran Revolusi Industri 4.0 muncul kepermukaan dan menyentak kesadaran publik saat terjadi pertarungan kepentingan antara taksi konvensional versus taksi online pada tahun 2016.

Belakangan, revolusi Industri 4.0 dengan digitalisasinya kerap jadi jargon Presiden Joko Widodo dalam setiap kesempatan pidatonya di ruang publik.

Kita masih berada di awal revolusi. Kita tidak tahu ke arah mana dunia bergerak sepenuhnya.

Karena itu wajar jika banyak pihak sekarang ini masih kebingungan dengan revolusi 4.0 itu sendiri dan hanya mencari kambing hitam dengan menjual isu murahan yang membuat Indonesia tidak berkembang.

Di tengah pesatnya tekonologi dan gencarnya revolusi 4.0, Pemerintah telah meninggalkan rasa spesimisnya terhadap perkembangan itu. Pemerintah terus meningkatkan optimisme agar kelak rakyat Indonesia memiliki masa depan dan sumber da manusia yang mumpuni.

Memang tidak bisa dipungkiri akan banyak suara sumbang yang mengitari langkah maju untuk membawa perubahan.

Perubahan tekonologi yang cepat bagai kilat ini harus benar-benar disadari, agar kita tidak lagi berpikir tentang impor hal hal remeh temeh seperti kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono.

Arif mungkin ada benarnya, tapi sayang Presiden Joko Widodo selalu berpikir hal-hal besar dan selalu optimis soal kemajuan. Bukan tidak anti pada impor tapi Jokowi memang tidak suka barang impor seperti yang ia tegaskan “Pacul saja impor”. Atas kritikan itu maka Pemerintah melalui Kemendag bakal mencabut izin usaha importir yang mengimpor pacul siap pakai dari China.

Jika menurut Waketum Gerindra Arief Puyouno bahwa Presiden Jokowi belum saatnya berbicara Revolusi Industri 4.0 karena industri di negara Indonesia belum mampu menghasilkan kebutuhan keseharian masyarakat, salah satunya peniti. Lalu mau sampai kapan Indonesia memikirkan peniti? Masakan seorang Presiden harus memikirkan peniti. Seharusnya Arief dan sejawatnya membantu Pemerintah dalam hal remeh temeh itu agar apa yang dirapkan bangsa ini benar benar terwujud bukan sekedar kritik tanpa solusi.

Kritikan Arief merupakan sikap pesimistis dan jauh dari revolusi mental di saat pemerintah sedang gencar mempersiapkan dan menuju revolusi industri 4.0. Bahkan Indonesia dianggap terlambat dalam menyambut industry 4.0.

Namun, di satu sisi kritikan tersebut juga menjadi pemantik bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih giat dalam upaya memajukan perindustrian di Indonesia. Sebab, perubahan besar dalam industri 4.0 adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Jargon Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah harapan dan cita-cita pemerintah dalam upaya meningkatkan kemampuan belajar, ketrampilan yang sesuai kebutuhan era industri 4.0. Tantangan ke depan adalah meningkatkan skill tenaga kerja di Indonesia, mengingat 70% angkatan kerja adalah lulusan SMP.

Pendidikan sekolah vokasi menjadi suatu keharusan agar tenaga kerja bisa langsung terserap ke industri. Revolusi industri 4.0 bukanlah suatu kejadian yang menakutkan, justru peluang makin luas terbuka bagi anak bangsa untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Sehingga sedari dini, revolusi industri harus menjadi bahan kajian bersama.