Pengkhianat Bangsa Gelar Konferensi Pers Di LBH Bela Kelompok Kriminal Papua



105 Views

Adanya sekelompok WNI yang bergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) yang menggelar Konferensi Pers di Gedung LBH Jakarta Selasa (14/11) kemarin, patut dipertanyakan nasionalisme dan agenda tersembunyi mereka.

Mereka menyatakan tidak ada penyanderaan 1300 warga di dua desa di Tembagapura, Papua oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua adalah pernyataan yang hanya menutup-nutupi kekejaman dan kebrutalan KKB itu sendiri.

Fakta adanya petugas keamanan dan beberapa kejadian penembakan membabi buta oleh KKB kepada masyarakat sipil serta isolasi dua desa di tembagapura pura adalah bentuk penyanderaan itu sendiri.

Kepentingan FRI-WP adalah sama dengan para pengacau keamanan tersebut untuk mendapatkan perhatian dunia agar dapat melakukan referendum ulang, padahal fakta telah dilakukan referendum pada tahun 1969 dan Papua Barat menyatakan kesediaannya masuk dalam teritori Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibawah pengawasan dan pengakuan masyarakat Internasional.

Konferensi Pers yang menurut mereka sebagai penyampaian pendapat dan klarifikasi dari KKB yang beranggotakan belasan orang di Papua yang secara terbuka menyatakan perang terhadap Indonesia karena dianggap sebagai penjajah di tanah Papua adalah satu bentuk pengkhianatan kepada bangsa Indonesia sendiri.

Berbagai pernyataan keji dan bentuk-bentuk propaganda hitam justru diberikan kepada pemerintah Indonesia yang berkepentingan melindungi kedaulatannya di Papua serta mengayomi para penduduk sipil di sana.

Mereka justru memutarbalikkan fakta bahwa berbagai pembunuhan termasuk satu warga bernama Martinus Waker yang tewas tertembak di Tembagapura justru merupakan propaganda hitam pemerintah Indonesia dan hanya berdasarkan pernyataan sepihak dari KKB yang menolak bertanggung jawab atas peristia pembunuhan tersebut.

Tanah Papua merupakan wilayah yang berada dalam teritori Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bangsa Papua adalah bagian dari Bangsa Indonesia. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Secara politik, Papua terintegrasi dalam NKRI sejak 1 Mei 1963, saat wilayah ini dikembalikan dari Kerajaan Belanda ke dalam pangkuan Republik Indonesia. Dunia internasional mengakui secara sah bahwa Papua adalah bagian Republik Indonesia setelah dilakukannya Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969.

Dengan demikian, Papua hingga saat ini merupakan bagian secara sah dari NKRI.

Namun dalam sejarahnya, Papua memang sering bergejolak, baik itu dari dalam maupun akibat intervensi dari luar. Sekelompok orang berusaha memisahkan Papua dari Indonesia.

Usaha tersebut tak hanya datang dari intervensi luar negeri saja, namun juga dari orang Indonesia sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Front Rakyat Indonesia untuk Papua Barat (FRI-West Papua).

Mereka menyatakan untuk mendukung agar Papua Barat menentukan nasib sendiri melalui referendum. Dengan kata lain, mereka berusaha mendorong Papua Barat untuk merdeka.

Dengan demikian, kelompok FRI-West Papua ini telah mengkhianati perjuangan orang-orang terdahulu Republik ini, dimana membebaskan Papua dari cengkeraman Belanda.

Kita tentu sudah paham bahwa dalam logika waras orang Indonesia, Papua adalah bagian sah darinya. Maka sudah sangat wajar bila aparat keamanan menjaga agar situasi tetap kondusif di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali Papua.

Apalagi, apa yang dilakukan oleh TPN-PB tersebut berupa penembakan mobil, penyerangan pos polisi, penyanderaan warga dan aksi kriminal lainnya. Maka sudah sangat wajar bila aparat keamanan Indonesia memiliki kewajiban untuk meningkatkan pengamanan di wilayah tersebut.

Tentu, tujuannya adalah untuk melindungi segenap warga yang merasa mendapatkan teror atas aksi dan tindakan tersebut.
Untuk itu, kita sebaiknya perlu bersikap bijak atas situasi yang terjadi di Papua ini. Kita tak perlu terprovokasi atas pernyataan FRI-West Papua karena hal tersebut tak sepenuhnya mewakili suara rakyat Papua seluruhnya. Kecuali mereka yang menginginkan distegrasi bangsa Indonesia.