Pemerintah RI Mendukung Proses Rekontruksi dan Rehabilitasi di Marawi



77 Views

Pemerintah Indonesia memiliki komitmen tinggi dalam menciptakan perdamaian dunia. Karena itu pemerintah siap mendukung proses rekonstruksi dan rehabilitasi, termasuk deradikalisasi di Marawi, Filipina.

Komitmen kesiapan Indonesia telah disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri Trilateral Indonesia-Malaysia-Filipina, yang dihadiri Menlu Filipina Alan Peter Cayetano dan Menlu Malaysia Dato’ Sri Anifah, di Hotel Diamond, Manila, Minggu (12/11/17) sore.

Pertemuan Trilateral ini merupakan tindak lanjut dari Pertemuan Trilateral sebelumnya pada Juni lalu.

Menlu menjelaskan, kerja sama antara Indonesia, Malaysia dan Filipina ini dibentuk untuk meningkatkan efektivitas penanganan kejahatan terorganisasi lintas negara, terutama terorisme, khususnya di Laut Sulu dan Sulawesi.

Selain rekonstruksi dan pembangunan infrastruktur, Retno mengatakan, salah satu fokus dukungan Indonesia yakni di sektor pendidikan dan deradikalisasi.

Ia menyampaikan Indonesia siap membantu mengembangkan kurikulum pendidikan agama, mengirim ulama untuk menyebarkan nilai Islam rahmatan lil alamin melalui madrasah, serta menyediakan lebih banyak beasiswa untuk para pelajar dan mahasiswa asal Marawi.

“Indonesia siap berbagi pengalaman dengan Filipina dalam proses deradikalisasi dan reintegrasi di Marawi,” kata Retno dalam keterangan tertulis di situs resmi Sekretaris Kabinet RI, Senin (3/11/17)

Retno juga mengatakan, keberhasilan Pemerintah Filipina membebaskan kota Marawai memberikan pesan kuat bahwa terorisme dan ekstremisme bisa dikalahkan melalui kerja sama.

Namun demikian, Retno mengingatkan, pembebasan Marawi bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah awal dari tugas yang lebih besar lagi, yakni mewujudkan pembangunan dan perdamaian berkelanjutan di Marawi.

Ia menambahkan, langkah penting berikutnya adalah melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi infrastruktur, reintegrasi, penyelesaian akar permasalahannya.

Selain itu juga dibutuhkan penguatan kerja sama guna mencegah terulangnya kembali tragedi seperti yang terjadi di Marawi.

Karena itu. Retno menyatakan, Indonesia menunggu Pemerintah Filipina untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan bagi upaya rekonstruksi dan rehabilitasi.

Indonesia juga telah berinisiatif menyampaikan draf Rencana Aksi (Plan of Action) beserta peta jalan (Road Map), yang secara sistematis memuat aktivitas konkrit kerja sama Trilateral.

Kegiatan konkrit tersebut terbagi menjadi tiga bagian, yakni jangka pendek, menengah, dan panjang.

“Kedua dokumen ini selanjutnya akan dibahas secara lebih mendalam dalam Pertemuan Trilateral berikutnya, yang rencananya akan diselenggarakan di Indonesia awal tahun depan,” ujarnya.