Pemblokiran Situs Radikal Tidak Mengatasi Serangan Teroris Lone Wolf

Pemblokiran Situs Radikal Tidak Mengatasi Serangan Teroris Lone Wolf

913 Views

Pola serangan teroris yang bergerak sendiri (lone wolf) memang tidak mudah didektesi. Gerakan lone wolf itu membuat kepolisian harus ekstra dalam segi pencegahan.

Meski banyak aksi lone wolf diketahui belajar dari dunia maya, namun hal ini pun cukup memeras keringat pasalnya mereka bergerak dengan berbagai cara kamuflase.

Aksi lone wolf belakangan kembali dilakukan saat teror bom bunuh diri di Polrestabes Medan, pada Rabu (13/11) lalu. Pelaku diduga belajar dan terpapar paham radikalisme lewat pembelajaran sendiri dengan modal akses internet.

Upaya pemerintah juga sudah banyak dilakukan, diantaranya dengan membatasi serta meblokir situs-situs berbau radikal

Akan tetapi, menurut Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengatakan pemblokiran situs-situs radikal tak akan mengatasi pola serangan teroris yang bergerak sendiri (lone wolf). Ia mengatakan pemblokiran hanya upaya sementara yang tak bisa bertahan lama.

“Kalau ditutup satu, jangankan situs teror, pornografi saja ditutup satu, tumbuh seribu,” kata Irfan saat ditemui di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Sabtu (16/11/2019).

Irfan mengatakan sejak 2014, BNPT bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyisir berbagai website berisi konten negatif. Beragam macam website, mulai dari yang berisi pornografi hingga berisi ajaran yang tak dijelaskan secara komprehensif, dilaporkan untuk ditutup.

Tapi dalam penerapannya, proses berjalan lebih panjang. Regulasi yang ada mengharuskan pemerintah harus memberi teguran beberapa kali, sebelum akhirnya bisa menjatuhkan sanksi kepada pemilik website.

Sanksi tak bisa diberikan begitu saja, karena akan menyalahi aturan soal kebebasan informasi. “Teguran ke sekian baru diblokir, tapi situsnya tetap tak ditutup,” kata dia.

Oleh karena itu, Irfan mengungkapkan pola pemblokiran semacam itu tak akan efektif untuk menangkal penyebaran paham radikal. Menurutnya, perlu upaya yang lebih kultural untuk menangkal paham ini.

“Solusinya bukan pada membatasi, tapi pada bagaimana melakukan edukasi kepada teman-teman penggiat dunia maya agar ikut menyuarakan bagaimana kearfian lokal yang kita miliki, bagaimana kita saling menghargai,” jelasnya.