PA 212 Langgar Konstitusi dengan Tolak Jokowi

PA 212 Langgar Konstitusi dengan Tolak Jokowi

445 Views

Jakarta – Pelantikan Jokowi-Ma’ruf ini tentu menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Ada yang senang bercampur bahagia karena capres yang didukungnya selama ini, akhirnya terpilih lagi jadi presiden. Namun, tidak sedikit diantaranya yang tidak setuju, Jokowi kembali memimpin negeri ini.

Entah apa alasannya. Apakah karena Pak De Owi telah membubarkan HTI, atau kah karena dia tidak memperdulikanmu Bang Toyib yang lagi di Arab Saudi sana, yang lagi butuh belas kasihan dana Rp 550 juta untuk bayar denda overstasy.

Mereka yang kecewa dengan dilantiknya Jokowi-Ma’ruf sebagai presiden dan wakil presiden itu, mengekspresikannya dengan beragam cara. Ada yang mengkampanyekan gerakan matikan TV saat pelantikan presiden dan wakil presiden berlangsung. Dan ada pula yang menolak kekuasaan Jokowi-Ma’ruf.

Segitunya Kadrun, sampai menolak presiden terpilih segala. Gagal move on kali nih orang. Karena, pendukung Ahok saja, di Pilgub DKI 2017 lalu, tidak ada yang menolak Anies sebagai gubernur terpilih.

Kalau KPU sudah memutuskan, apapun hasilnya harus diterima dengan lapang dada. Dan move on adalah jalan terbaik.

Pertanyaannya, siapa atau kelompok mana yang tidak setuju Jokowi-Ma’ruf memimpin Indonesia untuk 5 tahun ke depan? Siapa lagi kalau bukan gerombolan PA 212.

Penolakan itu disampaikan oleh Ketua PA 212, Slamet Maa’rif.

Jubir FPI itu mengatakan, PA 212 menuruti hasil Ijtima Ulama jilid 4, yang salah satu hasil rekomendasinya adalah menolak hasil Pilpres 2019, dengan alasan terdapat kecurangan.

“PA 212 berpegang pada hasil Ijtima Ulama 4. Salah satu poin utamanya menolak kekuasaan yang dihasilkan dari kecurangan dan kezaliman, serta menjaga jarak dengan kekuasaan tersebut,” ujar Slamet, (20/10).

Do’i menambahkan, tidak akan pernah mau melakukan rekonsiliasi dengan pihak manapun yang selama ini mereka anggap telah melakukan kriminalisasi terhadap ulama.

Emang siapa yang ngajak melakukan rekonsiliasi? Kwkwkwk

Selamet juga mengatakan, PA 212 akan terus menjadi pihak yang melawan pemerintah. Bahkan, mereka berjanji demi langit dan bumi, tidak akan merapat ke pemerintahan Jokowi. Meskipun capres/cawapres yang didukungnya, Prabowo-Sandi memberi sinyal kuat akan merapat ke istana.

Ia pun tidak bisa menutupi kekecewaannya terhadap keputusan Prabowo yang mau begitu saja bertemu dengan Presiden Jokowi, dan mau menghadiri pelantikannya sebagai presiden periode kedua.

“Kami menyayangkan keputusan Prabowo Subianto, yang pastinya melukai perasaan pendukungnya, termasuk emak-emak militan,” ujar Slamet dengan ekspresi murung.

 

Kelihatan banget kalau kelompok ini suka memaksakan kehendak. Bersyukur Prabowo gak terpilih jadi presiden. Kalau terpilih, bisa-bisa Ketua Umum Partai Gerindra itu mereka paksa untuk segera mengembalikan Rizieq ke tanah air.

Pertanyaannya, kalau mereka tidak mengakui Jokowi sebagai presiden Republik Indonesia, lantas siapa yang akan mereka angkat jadi pemimpin? Rizieq, di Arab Saudi sana?

Jangankan mau memimpin umat Monaslimin PA 212, ngurus denda overstay-nya saja Bang Toyib gak mampu. Kwkwkwk

Jadi, tidak menutup kemungkinan, sejarah di masa kepemimpinan Ahok sebagai gubernur DKI akan terulang lagi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kelompok ini, bukan sekali ini saja menolak kepala pemerintahan. Sebelumnya, pada 2014 lalu, mereka juga sempat menolak Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta. Adapun alasan penolakan mereka, berbau SARA banget, yakni karena Ahok non Muslim.

Namun, segala cara yang mereka lakukan tidak ada yang berhasil untuk menjatuhkan Ahok, termasuk pakai isu SARA sebelumnya. Untuk itulah, kelompok yang tidak mau menerima kenyataan hidup ini melantik gubernur tandingan bernama Fachrurozi Ishaq.

Jika berdasarkan ketentuan Perpres No.167 tahun 2014 tentang Tata Cara Pelantikan Gubernur, Bupati dan Walikota, Pasal 3 menyebutkan, bahwa gubernur dilantik oleh presiden. Bisa juga oleh wakil presiden, jika presidan berhalangan.

Ini, gubernur KW, Fachrurozi dilantik oleh FPI.

Pelantikan yang tidak biasanya itu digelar pada Senin, 1 Desember 2014 silam. Di depan gedung DPRD DKI Jakarta. Kwkwkwk

“Kami dari presidium penyelamat Jakarta baru menetapkan KH Fachrurozi sebagai gubernur tandingan. Kami lebih memilih dipimpin oleh putra asli Betawi yang keturunan langsung dari Si Pitung”, ujar salah seorang laskar FPI kala itu.

Nah, pasca Ahok tidak lagi menjabat sebagai gubernur, do’i pun secara otomatis meninggalkan jabatannya sebagai gubernur kaleng-kaleng.

Idealnya, jabatan itu kan terus meningkat. Seperti presiden Jokowi, dari walikota menjadi gubernur, kemudian menjadi presiden. Begitupun dengan si Fachrurozi ini. Seharusnya dia, pasca menjabat sebagai gubernur tandingan, selanjutnya menjadi presiden tandigan.

Apalagi sekarang, momentumnya tepat, yakni PA 212 tidak mengakui kepemimpinan Jokowi sebagai presiden. Jadi, tidak ada lagi yang mesti dipikirkan.

Kita tunggu saja masyarakat Indonesia, Kapan tepatnya FPI dan PA 212 melantik presiden kaleng-kaleng di depan gedung DPR-RI.