Momentum Pertumbuhan Industri Harus Dijaga untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi



Bataraonline – Pada triwulan I/2018, industri manufaktur nasional skala besar dan sedang di dalam negeri mengalami peningkatan produksi sebesar 0,88%, lebih tinggi dibanding kuartal IV/2017 secara quarter to quarter (q-to-q) dan tumbuh 5,01% dari kuartal I-2017 secara year on year (yoy).

Momentum pertumbuhan industri ini kata Ekonomi Senior Center of Reform on Economics (CORE) Ina Primiana harus dijaga dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Ina mengatakan, industri manufaktur memang mengalami pertumbuhan meskipun masih jauh dari target yang ditetapkan pada Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) di tahun 2015, yaitu 6,8%.

Namun, berdasarkan Purchasing Manager Index (PMI) Indonesia sudah di atas 50 meski di Juni mengalami penurunan. Tapi kata dia, jenis industri yang tumbuh berubah-ubah, tidak konsisten, baik yoy ataupun qtoq.

“Memang ada permulaan yang baik,” ujarnya di Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Dijelaskannya, pertumbuhan yang terjadi pada industri bisa didorong oleh beberapa faktor. Ia mengatakan beberapa program yang dijalankan pemerintah untuk mendorong industri sudah mulai menunjukkan hasil.

“Ada kenaikan nilai investasi, pembangunan kawasan industri di luar Pulau Jawa, program hilirisasi, kebijakan pembangunan tenaga industri. Asumsi awal terjadi efek positif terhadap program-program yang telah dijalankan pemerintah pada tahun 2017, khususnya di Indonesia Timur,” jelasnya.

Kendati demikian, pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap semua program hal itu untuk mengetahui program mana yang paling memberikan dampak terhadap geliat pertumbuhan industri.

Proyeksi Pertumbuhan Manufaktur 2019

Pada kesempatan berbeda Core memprediksi, pertumbuhan industri manufaktur tahun 2019 hanya dikisaran 4,26%-4,3%. Pasalnya perkembangan manufaktur di banding kuartal III-2018 juga mengalami perlambatan.

“Tahun 2019 pertumbuhan industri manufaktur tumbuh marjinal,” ungkapnya saat pemaparan Core Economic Outlook di Graha Niaga, Rabu (22/11).

Sementara di sisi lain, lanjut Ina menjelaskan di tahun 2019 sektor manufaktur yang potensial adalah makanan dan minuman yang tumbuh 9,8%-10,3%, tekstil di level 8,1%-8,4%, dan alat angkutan yang tumbuh di kisaran 4,7%-5,2% dari yang sebelumnya di tahun 2018 tercatat 4,59%.

Potensi permintaan di 2019 terjadi pada konsumsi domestik yang tumbuh 5%, perkembangan transportasi online, dana bantuan sosial yang tumbuh 26% pada APBN 2019 serta momentum tahun politik yang banyak menyumbang pada permintaan tekstil serta makanan dan minuman.

Target Pertumbuhan Manufaktur 2019

Kementerian Perindustrian sendiri menargetkan pertumbuhan manufaktur di atas 5% pada tahun depan, melanjutkan kinerja pada kuartal III/2018 yang berada di level 5,01%.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar menyebut, manufaktur akan bergeliat karena digelarnya pemilihan presiden pada 2019.

Haris menjelaskan bahwa industri di Indonesia telah berpengalaman menghadapi pilpres sehingga investor tidak perlu khawatir untuk berinvestasi pada tahun depan.

“Karena banyak informasi dari sana-sini jadi wait and see. Justru pada pilpres itu terjadi pertumbuhan. Ada kebutuhan tekstil, mamin, kemudian mobilitas luar biasa sehingga banyak kebutuhan untuk konsumsi,” ujar Haris, Minggu (2/12).

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah melakukan berbagai langkah yang membawa pengaruh jangka pendek dan panjang. Peraturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), lanjutnya, dapat memberi pengaruh paling cepat.

Penerapan TKDN oleh industri dinilai akan meningkatkan konsumsi produk dalam negeri sehingga industri dapat tumbuh lebih baik. Selain itu, lanjut dia ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.

Namun kata Haris menjelaskan, pembangunan infrastruktur yang telah dijalankan pemerintah harus dibarengi dengan pengembangan industri. Dalam hal ini, infrastruktur yang melibatkan pemerintahan di berbagai tingkat harus diimbangi dengan pengembangan industri di berbagai skala.

“Kepala daerah harus kreatif dan bersinergi (dalam mengembangkan industri). Industrinya diharapkan terus bergerak,” ujarnya.