Menghabituasi Nilai-nilai Pancasila untuk Lawan Intoleransi

Menghabituasi Nilai-nilai Pancasila untuk Lawan Intoleransi

397 Views

Bandung – Seminar Extension Course Filsafat (ECF) yang diselenggarakan oleh Universitas Katolik Parahyangan Fakultas Filsafat dihadiri oleh Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo. Minggu (20/10).

Acara dengan tema “Pancasila sebagai Kekuatan Pembebas” ini diselenggarakan di gedung Fakultas Filsafat Bandung yang dihadiri oleh semua unsur masyarakat seperti Dosen, Mahasiswa, dan penduduk sekitar. Dalam pemaparannya Antonius Benny Susetyo menjelaskan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak boleh ada diskriminasi.

“Dalam praktiknya tidak boleh ada diskirmnasi kepada keyakinan yang lain. Tidak boleh ada kekerasan dan memaksakan kehendak karena adanya perbedaan keyakinan,” tegasnya.

Selain itu, Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP ini menjelaskan bahwa sekarang ini banyak pihak yang menawarkan ideologi radikal yang bahkan ada yang menjanjikan janji surga dengan mudah.

“Sekarang ini banyak yang menawarkan ideologi radikal yang memberikan janji masuk surga dengan mudah dengan cara-cara yang anarkis. Hal ini sangat berbahaya dan harus dilawan dengan penguatan ideologi,” jelas Antonius.

Selanjutnya, dijelaskan bahwa untuk melawan intoleransi dan ideologi radikal ini harus bisa menerapkan dan menghabituasi nilai-nilai Pancasila yang di dalamnya mementingkan unsur keadilan dan keberadaban.

“Terpenting dalam menghadapi semua permasalahan ini adalah menerapkan dan menghabituasi nilai-nilaiĀ  Pancasila. Orang yang berkeadaban yang tidak memaksakan apa yang dianggap benar oleh kelompoknya sendiri. Berkebudayaaan yang mempunyai adab dan menjunjung tinggi kemanusiaan,” pungkasnya.

Sebagai penutup salah satu profil insan pancasila adalah menyadari bahwa perbedaan adalah fitrah. Oleh karena itu pemahaman dan pengahbituasian nilai-nilai Pancasila sangatlah penting bagi semual lapisan masyarakat dan disesuaikan cara pemahamannya dengan era milenial sekarang ini.

“Tantangannya adalah bagaimana pemahaman Pancasila ini diajarkan dengan menggunakan konsep kekinian ini yg harus dikemas dalam dunia milenial. Tentunya yg bukan membuat mereka takut karena terlalu filosifis. Tetapi dengan sesuatu yg bisa direalisasikan,” tutupnya.