Lagi, Kedunguan Arif Poyuono Merusak Koalisi Prabowo-Sandi



110 Views

Bertutur tak beraturan, bersikap tanpa santun. Ini lah gambaran sosok Arif Poyuono yang kerap membuat sensasi baru dengan segala keonaran dari kedunguannya.

Ia berteriak menyerukan para pendukung Prabowo-Sandi agart tidak membayar pajak bila Jokowi-Ma’ruf Amin memerintah Indonesia. Sikap konyol Arif ini bukan kali pertama dilakukannya.

Sebelumnya, dia juga sudah membikin heboh jagat perpolitikan nasional dengan mengusir Partai Demokrat dari koalisi pendukung Prabowo-Sandi.

Politisi yang bicara asal bacot memang sering menimbulkan polemik yang tak produktif. Bahkan polemik yang ditimbulkannya justru menunjukkan kepicikan dan kedangkalan wawasan mereka tentang berbangsa.

Coba kita cermati ajakan Arief Poyuono kepada pendukung paslon Prabowo-Sandi agar menolak membayar pajak, karena pertimbangan kubunya dinyatakan gagal.

Napun, sikap Arief Poyuono tak sepaham dengan pemikiran Ketua DPP Partai Gerindra dan Sekretaris Fraksi Gerindra di DPR Desmond J Mahesa.

Desmond malah menilai Poyuono sebetulnya cocok untuk menjadi bagian dari pendukung kubu penguasa Joko Widodo (Jokowi) yang merupakan rival Prabowo. Soalnya, Poyuono selama ini dinilai merusak koalisi.

“Kalau saya melihat, Arief Poyuono ini cocoknya sebagai bagian dari kekuasaan. Arief Poyuono merusak. Kalau dia berbicara soal mengusir orang, itu semua kan merusak. Padahal perbedaan itu biasa, kalau Demokrat berbeda itu biasa, biarlah sejarah yang menilai,” kata Desmond.

Jika benar Desmond bermaksud menyerang capres petahana, maka tuduhan itu perlu dikaji lagi. Faktanya kubu petahana adalah pihak yang berkepentingan dengan pengelolaan pemerintahan saat ini. Sama halnya jika kembali dipercaya oleh rakyat, maka sangat keterlaluan kalau Desmond menuding petahana akan senang seandainya ajakan Poyuono direspon oleh pendukung Prabowo, dan dengan demikian akan semakin tumbuh para pengemplang pajak.

Namun jika maksud Desmond hanya bermaksud mempertahankan citra positif kubunya, serta menyerang secara pribadi kepada rekan separtainya itu, cara kurang pas pun tetap kita anggap telah dilakukan Desmond, karena seakan-akan kubu petahana diciprati getah atas apa yang dilakukan oleh kubu mereka.

Selebihnya, kita sepaham dengan Sekretaris Fraksi Gerindra itu, manakala disebutnya Poyuono merusak dan membakar Koalisi Prabowo-Sandi. Bahkan kita bisa menilai lebih jauh dari sekedar menyetujui penilaian Desmond.

Sikap Arif Poyuono yang sering menimbulkan polemik dan menunjukkan kepicikan serta kedangkalan wawasan berbangsa. Dirinya lebih terlihat sebagai orang yang sedang mencari panggung, gemar menyemburkan serangan kepada siapa pun yang berakibat kerenggangan di internal koalisi.

“Kami tidak mau menghukum orang yang aneh-aneh. Kami menuntut orang ini sadar. Sudah dikirimi SP-1, sudah ditegur, tapi masih saja…. Ini karena wataknya saja. Itu sudah diperingatkan,” kata Desmond.

Sebelumnya, Arif Poyuono menyeru masyarakat yang tak terima dengan pemerintahan hasil Pilpres 2019 menolak membayar pajak. Sebagaimana diketahui, Prabowo Subianto sebagai capres yang juga didukung Gerindra menyatakan menolak hasil Pemilu 2019.

“Langkah-langkah yang bisa dilakukan masyarakat yang tidak mengakui hasil pemerintahan dari Pilpres 2019 di antaranya tolak bayar pajak kepada pemerintahan hasil Pilpres 2019 yang dihasilkan oleh KPU yang tidak legitimate. Itu adalah hak masyarakat karena tidak mengakui pemerintahan hasil Pilpres 2019,” kata Poyuono dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Rabu (15/5) kemarin.

Poyuono juga pernah mengusir Partai Demokrat keluar dari koalisi Indonesia Adil Makmur. Soalnya, SBY tampak memperagakan sikap tak jelas di mata Poyuono.

“Demokrat sebaiknya keluar saja dari Koalisi Adil Makmur. Jangan elitenya dan Ketum kayak serangga undur-undur ya. Mau mundur dari koalisi aja pake mencla-mencle segala,” kata Poyuono dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (10/5).

Arief mungkin meniru cara sang panutan menyerang ke kiri dan ke kanan. Kalau diibaratkan hubungan orangtua dan anak, buah jatuh tak akan jauh dari pohon, maka kelakuan kader partai pun tak akan beda jauh dengan pemimpin di partai itu sendiri.

Kerawanan-kerawanan seperti ini di sinyalir akan menimbulkan gesekan semakin kuat, jika saja mereka berhasil mendapatkan mandat dari rakyat.

Poyuono merupakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra. Namun posisinya dinilai justru membahayakan Koalisi Indonesia Adil Makmur Prabowo-Sandiaga. Poyuono bak api berbahaya di dalam koalisi.

“Arief Poyuono kan kesannya membakar gitu lo,” kata Ketua DPP Partai Gerindra dan Sekretaris Fraksi Gerindra di DPR Desmond J Mahesa, kepada wartawan, Kamis (16/5/2019).