Kubu Prabowo-Sandi Tolak Hasil Pemilu Curang Tapi Menerima Hasil Pemilu Legislatif



686 Views

Sikap kubu Prabowo-Sandi yang menolak hasil Pemilihan Umum 2019 dan mengakui perolehan suara calon legislatif semua partai mendapat sindirian dari Ketua Tim Kampanye Daerah Ma’ruf-Amin Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Dedi mengatakan, Pemilu 2019 dilaksanakan satu paket oleh lembaga penyelenggara Pemilu, yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari pusat, provinsi hingga tingkat KPPS. Pengawasanya pun dari pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan hingga tingkat kelurahan/desa.

Namu ia merasa aneh, ketika hasil pemilu itu dianggap curang, maka pemahaman itu kata dia berlaku paralel, baik pemilihan presiden, DPD, DPR RI hingga DPRD tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

“Sehingga pengakuan atau penolakan terhadap hasil pemilu, berarti penolakan terhadap satu paket kegiatan. Bukan hanya penolakan terhadap hasil pilpres, tetapi juga hasil pemilihan DPD dan anggota legislatif dari pusat sampai daerah. Berarti konsekuensinya menolak hasil pileg di berbagai daerah,” kata Dedi dilansir dari Kompas.com, Rabu (15/5/2019).

Menurut Dedi, jika yang ditolaknya hanya pemilihan presiden, sedangkan pemilihan legislatif diterima, maka itu disebut ambivalen, dan membingungkan.

“Kalau dianggap pemilu curang, berarti pileg juga curang. Kalau pileg curang, berarti mereka yang mengalami peningkatan suara legislatif hari ini diperoleh dari hasil kecurangan. Kan konsekuensinya itu,” kata Dedi.

Sementara itu, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Maruf Amin, Abdul Kadir Karding menyebut Sikap penolakan kubu 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terhadap hasil Pemilu 2019 otomatis pula juga turut menolak hasil pileg.

Dengan demikian, kata dia mengatakan bahwa caleg-caleg dari koalisi Indonesia Adil dan Makmur tak patut dilantik jadi anggota DPR periode berikutnya.

Menurut dia, KPU memiliki opsi untuk mengeluarkan rekomendasi agar anggota DPR dari kubu 02 yakni Gerindra, PKS, PAN, Berkarya dan Demokrat tidak perlu dilantik karena tidak diakui hasilnya oleh ketua umumnya yaitu Prabowo dan BPN koalisi 02.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menilai bahwa penolakan Prabowo-Sandi terhadap hasil Pilpres dari KPU menunjukkan sikap mendua. Di satu sisi menolak hasil Pemilu, di saat yang sama terus mengikuti proses perhitungan suara di KPU.

Tak hanya itu, saksi tetap dibiarkan ikut proses perhitungan tapi hasilnya sudah dinyatakan akan ditolak.

Hal ini menurut Ray adalah sebuah keunikan yang terjadi di kubu Prabowo karena hanya tidak percaya terhadap hasil pilpres. Sementara hasil pileg sama sekali tidak diprotes dan tidak ada dugaan adanya kecurangan bersifat terstruktur, sistematis, dan masif. Padahal, penyelenggara pemilunya sama, dilakukan pada hari yang sama, dengan metode yang hampir sama.