Kampus UIII Upaya Presiden Jokowi Perkenalkan DNA Pluralisme Indonesia Ke Dunia Internasional



2,310 Views

Fitnah dan hoaks yang terus mendera pemimpin bangsa Presiden Joko Widodo (Jokowi) di periode awal pemerintahannya terbukti digerakkan oleh kelompok radikalisme yang bersimpati kepada gerakan terorisme internasional. Dalam kenyataannya presiden ke 7 Indonesia ini bisa dikatakan sebagai sosok yang Indonesia banget. Selain dipastikan sebagai muslim yang taat, Jokowi juga seorang Nasionalis yang terbukti mengayomi dan melindungi segenap rakyat Indonesia.

Sebagai seorang muslim, Jokowi sangat memperhatikan pembangunan dan pengembangan Islam di Indonesia. Selain sering meminta nasihat kepada Kiai, Jokowi termasuk Presiden yang rajin mengunjungi pondok pesantren bahkan saat ini didampingi oleh seorang ulama mumpuni Indonesia KH. Ma’ruf Amin.

Pluralisme agama memegang peran penting dalam menciptakan kedamaian global. Pasalnya, pluralisme agama bukan semata anugerah, tapi juga harus diciptakan dan diusahakan. Pluralisme juga merupakan bagian DNA dari Bangsa Indonesia dengan azas Bhinneka Tunggal Ika dan falsafah negara Pancasila.

Selain perguruan tinggi keagamaan Islam, kontribusi Indonesia dalam perdamaian dunia dan pluralisme agama juga tidak bisa dilepaskan dari keberadaan ormas Islam, seperti NU dan Muhammadiyah. Menurutnya, kedua ormas terbesar di Indonesia ini telah menunjukkan komitmennya terhadap perdamaian dan pluralisme dengan mengajarkan Islam yang moderat.

Untuk meningkatkan ajaran Islam yang menghormati prinsip pluralisme yang menjadi ciri khas Indonesia dibuktikan Presiden Jokowi dengan membuat Perpres untuk pembangunan Universitas Islam Indonesia Internasional (UIII) dengan alasan untuk menjawab kebutuhan masyarakat inetrnasioanal demi memperkokoh kepemimpinan Indonesia di dunia internasional, terutama umat Islam Internasional.

Presiden Joko Widodo pada tanggal 29 Juni 2016 telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 57 Tahun 2016 tentang Pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia.

Di Pasal 1 ayat (2) Perpres tersebut dijelaskan, “UIII merupakan perguruan tinggi yang berstandar internasional dan menjadi model pendidikan tinggi Islam terkemuka dalam pengkajian keIslaman strategis yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama,”

Ketika kajian keislaman di sebuah negara didominasi ekstrem atau radikal, maka negara itu menganut Islam ektrem atau radikal.
Maka UIII menjadi media promosi Islam moderat ala Indonesia kepada dunia internasional.

Nantinya para mahasiswanya dari Indonesia dan luar negeri. Proses perkuliahan menggunakan bahasa Arab atau Inggris serta disediakan beasiswa oleh pemerintah. Mahasiswa dari negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) menjadi sasaran utama.

Kemudian juga mahasiswa dari negara-negara pecahan Uni Soviet. Selain itu juga mahasiswa dari kawasan ASEAN dan sekitarnya.

Rektor UIII Komaruddin Hidayat sendiri mengungkapkan Ide pembangunan UIII ini sendiri berasal dari Presiden Jokowi dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Kalau berkunjung ke luar negeri, negara luar banyak mengapresiasi kehidupan beragama di Indonesia. Hubungan antar-agamanya bagus, Islam dan demokrasinya berkembang. Dan tokoh-tokoh dunia berharap agar Indonesia menjadi salah satu model dari kehidupan beragama,” jelas Komaruddin Hidayat

“Oleh karena itu, salah satu usahanya membangun universitas internasional yang bisa jadi pusat publikasi pengalaman indonesia.” tambahnya.

Universitas Islam Internasional Indonesia, kata Komaruddin, diniatkan menjadi kontribusi besar Indonesia untuk peradaban. “Menurut Presiden, Indonesia ini kan negara yang mayoritas muslim masak tidak punya pusat kajian internasional. Negara lain saja punya, kok. Malaysia punya, Pakistan, Singapura. Lalu mengapa kita tidak menyumbang?”

Selain, secara politis ini juga sangat bagus bagi pemeritah sebagai diplomasi kultural dan intelektual. “Maka mitranya itu nanti dengan Kemlu. Kalau agama, dengan Kemenag. Keilmuan dengan Kemenristekdikti. Jadi, tiga kementerian itu yang akan mengelola.”

Ada tiga paket dalam pembangunan kampus UIII tahap I. Paket 1 mencakup pembangunan gedung rektorat, gedung fakultas 1, dan kawasan 3 pilar.

Paket 2, pembangunan lima rumah dosen, asrama mahasiswa, dan renovasi gedung MEP (eks RRI). Paket 3, pembangunan pagar keliling dan infrastruktur kawasan kampus tahap I.

Sumber pendanaan sendiri pertama, pada 2018 memakai dana Badan Anggaran Bendahara Umum Negara (BABUN), dari alokasi anggaran sebesar Rp 584 miliar, dengan realisasi hanya Rp 110 miliar.

Sementara pada 2019-2020 memakai dana DIPA Kementerian Agama sebesar Rp 507 miliar. Proyek itu pun turut mendapat dukungan dana dari Kementerian PUPR sekitar Rp 820 miliar.

UIII bila kelak telah operasioanl akan memiliki tujuh fakultas, yakni kajian Islam, Ilmu Sosial, Humaniora, Ekonomi Islam, Sains dan Teknologi, Pendidikan, Arsitektur, Seni.

Untuk tahun pertama tiga program studi yang akan dibuka adalah Islamic studies, political science dan education,

Presiden Jokowi sendiri menegaskan pembangunan kampus UIII ini memiliki cita-cita agar benar-benar bisa menjadi pusat kajian dan penelitian peradaban Islam.

“Kita dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Sudah sepatutnya Indonesia menjadi rujukan peradaban Islam dunia. Biaya pembangunannya mencapai Rp 3,5 triliun dan sudah saya masukkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional,” jelas Presiden Jokowi.

Dia juga mengapresiasi desain UIII yang futuristik dan tata ruang kampusnya yang baik sehingga mendukung harapan UIII sebagai kampus masa depan bagi kajian dan penelitian peradaban Islam.

Meski demikian, diharapkan kampus sudah mulai bisa digunakan untuk proses belajar satu sampai tiga mata kuliah pada tahun depan. UIII juga diharapkan bisa mempercepat kesejahteraan umat bagi seluruh masyarakat Indonesia yang mewujudkan negeri yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur.