Jangan Cari Tuhan Lewat Internet

Jangan Cari Tuhan Lewat Internet

661 Views

Perkembangan teknologi akan mempermudah masyarakat banyak tahu tentang kemajuan dunia. Informasi pun akan mudah didapat hanya dengan mengklik tombol.

Namun, pernah kita sadari bahwa kemajuan teknologi, khususnya media sosisal internet tidak semuanya berdampak positif bagi penggunanya. Ada pula yang banyak menyalahgunakannya untuk sekedar memuaskan diri.

Bahkan kemudahan internet memicu masyarakat yang haus akan agama lalu kemudian mencari Tuhan lewat dunia maya.

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengungkapkan hampir setengah masyarakat Indonesia mencari informasi terkait agama di internet. Fachrul mengatakan hal itu berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)

“Dengan mengutip indeks desiminasi media sosial yang diterbitkan BNPT tahun 2019, diperoleh angka indeks sebesar 39,89, ini (patokan) indeks tertingginya 100, 9,89 orang Indonesia yang menggunakan medsos mencari dan menyebarkan konten tentang agama. Seperti keberadaan Tuhan, indeks yang didapat 43,91, sifat-sifat Tuhan 40,31, kuasa Tuhan 40,31, dan kisah hidup orang-orang suci 36,72,” kata Fachrul dalam Rakornas Forkopimda di SICC, Bogor, Rabu (13/11/2019).

Minat mencaria pemahaman-pemahaman agama mencari pengetahuan di medsos menurut Menag sangat luar biasa tingginya. Dari data-data diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa hampir dari setengah total masyarakat Indonesia menggunakan medsos untuk melakukan interaksi dengan orang lain dan untuk mencari informasi tentang persoalan kehidupan, termasuk masalah agama.

Fachrul menilai, dengan adanya internet, masyarakat cenderung menganggap pemuka agama tradisional sebagai pilihan alternatif. Hal itu berbeda dengan generasi terdahulu.

“Dengan fasilitas internet ini, masyarakat cenderung menganggap otoritas agama seperti kiai, ustaz, guru, guru agama yang tradisional hanya pilihan alternatif belaka dari kehidupan sehari-hari mereka. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang sangat taat kepada fatwa kepala otoritasnya,” ujarnya.

Sebagian masyarakat, kata Fachrul, berkonsultasi agama melalui internet. Dari situ, timbullah tafsir yang berbeda dari tafsir pada umumnya.

“Mereka berkonsultasi dengan berbagai sumber untuk memenuhi kehausan agamanya. Sering kali kita mendengarkan tafsir-tafsir agama mainstream dikalahkan oleh pilihan-pilihan personal bersumber dari yang bukan otoritas, tapi mungkin demi memenuhi akal sehat mereka,” ucap Fachrul.

Dari multitafsir tersebut, Fachrul menilai kebenaran menjadi beragam. Akibatnya, menurut Fachrul, masyarakat cenderung intoleran dan mudah terpapar radikalisme.

“Akibatnya, pemikiran keagamaan sebagian besar kita, cenderung intoleran dan mudah terpapar ideologi radikal ekstrem. Atau sebaliknya jadi super-toleran yang mengganggu sendi-sendi beragama,” jelasnya.

Fenomena ini tentu tak akan membuat pemerintah tinggal diam. Fachrul mengatakan perlu mengembangkan strategi komunikasi yang utamanya untuk generasi milenial yang rentan terpapar radikalisme.