Ijtima Ulama IV Merupakan Hiburan Kekecewaan Kelompok Radikal



1,204 Views

Dengan mengatasnamakan sikap keumatan demi menyikapi kondisi situasi poltik saat ini sejumlah organisasi masyarakat seperti Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Nasional Pengawal Fatwa atau GNPF Ulama dan Persaudaraan Alumni atau PA 212 menyatakan siap menggelar Ijtima Ulama ke-4 di Jakarta.
Ijtima itu rencananya bakal di gelar pada bulan Agus 2019 mendatang. Ketua PA 212, Slamet Ma’arif mengatakan akan berjuang dengan sekuat tenaga agar Ijtima ulama itu berjalan dengan sukses dan lancar.
“Apa pun yang diputuskan, kami akan mengikuti dan memperjuangkan hasil Ijtima ulama,” kata Slamet.

Rencana Ijtima Ulama 4 oleh FPI, GNPF Ulama dan PA 212 pada Agustus 2019 di Jakarta, merupakan acara penghiburan diri dan bertujuan menunjukkan eksistensinya yang kian meredup sejalan dengan kekalahan Prabowo-Sandiaga yang dijadikan kendaraan politik di Pilpres 2019.

Ijtima Ulama 4 ini juga terpaksa digelar untuk membicarakan kepulangan Rizieq Shihab ke Indonesia yang overstay dan didenda di Arab Saudi.

Mau pulang ya pulang aja, kenapa jadi ribet begini? Atau mungkin tidak punya uang? Atau mungkin takut dengan beberapa kasus yang masih belum clear?

Sebenarnya Ijtima Ulama 4 sini udah tidak relevan dilakukan dan sentimen agama pun sudah mulai meredup tetapi tetap dipertahankan oleh GNPF Ulama, PA 212 dan FPI untuk mengambil panggung serta perhatian masyarakat.

Padahal mereka bukan orang penting yang bisa mengubah arah negara dan dengan hebohnya rencana Ijtima Ulama 4 seolah-olah menjadi kiblat semua warga negara.

Sayangnya tidak ada yang memperdulikan kelompok tersebut kecuali anggota atau gerombolonnya sendiri karena jelas Ulamanya pun tidak mewakili seluruh Indonesia, namun hanya yang sejalan dengan kelompok mereka.

Saat ini masyarakat Indonesia sudah muak dengan bentuk penolakan yang tak relevan dan menolak Ijtima Ulama 4 yang hanya mendorong kegiatan politisasi agama yang dilakukan GNPF Ulama, PA 212 dan FPI. Dengan kata lain acara seperti itu harus segera dihentikan.

Pilpres sudah berlalu, pemerintah pun kini sedang sibuk meramu formula dan mengerjakan proses untuk pemilihan menteri pada kabinet mendatang. Sementara mereka hanya sibuk mengadakan ijtima ulama yang sama sekali tidak penting bagi negara ini, kecuali bagi kepentingan mereka.

Mereka sibuk sendiri padahal mereka pula yang sedang kebingungan. Jelas-jelas tujuan mereka bermuara ke politik. Buktinya adalah rekomendasi soal capres dan cawapres pilihan mereka. Dengan menggunakan agama, mereka terjun ke politik yang jelas-jelas merupakan hal duniawi. Ulamanya pun tidak mewakili seluruh Indonesia apalagi dunia internasional.

Sekretaris Umum DPP FPI Munarman mengatakan Ijtima Ulama keempat bertujuan sekaligus sebagai wadah konsolidasi di kalangan ulama.

“Karena bidang politik yang saat ini sangat seksi, makanya akan lebih banyak menarik perhatian. Waktu itu momentumnya bertepatan dengan pemilu khususnya pilpres,” kata Munarman.