Ibas Muncul dalam Buku Hitam Setnov di Kasus E-KTP



Peneliti dari Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) FH UGM, Fariz Fachryan  mendesak terdakwa kasus korupsi proyek e-KTP Setya Novanto (Setnov) agar membuka nama sejumlah politisi terkait kasus tersebut dalam persidangan, salah satunya adalah Ibas. Namun pengungkapannya harus berdasarkan bukti.

Nama Ibas jadi pembicaraan karena buku hitam yang selalu dibawa Setya Novanto tersingkap. Nama putra bungsu Presiden ke-VI RI Susilo Bambang Yudhoyono itu terungkap saat Setnov menghadiri sidang lanjutan kasus e-KTP di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/2) lalu.

Pada salah satu halaman, tertulislah nama Nazaruddin dan Ibas. Di atas dua nama itu, tertulis justice collaborator dan nama Nazaruddin berada persis di bawah tulisan justice collaborator.

Di bawah nama Nazaruddin, Setnov menggambar dua tanda panah. Tanda panah pertama berwarna hitam dan tertulis nama Ibas dan ada juga tanda panah berwarna merah di bawah nama Ibas dan tercantum juga angka USD 500 ribu.

Setnov ingin menyeret semua angota DPR yang terlibat kasus tersebut, termasuk SBY dan putranya Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).

“Jika Setya Novanto memang mempunyai bukti tentang keterlibatan Ibas, disampaikan saja dipersidangan. Tapi disertai bukti bukti tentang keterlibatan Ibas,” kata Fariz dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (8/2).

“Karena melihat dari keterangan saksi saksi lain, penyebutan Ibas hanya dilakukan oleh Setnov,” tambah dia.

Untuk itu, dia berharap agar Setnov dapat terbuka dan tak menutupi keterlibatan Ibas maupun pihak lainnya dalam perkara tersebut. Dia mendesak mantan ketua DPR itu membongkar semua politisi diduga terlibat dalam korupsi proyek yang memakan biaya Rp 5,9 triliun itu.

“Saya harap Setnov tidak menutupi keterlibatan orang lain, dibuka saja dalam persidangan dan biar nanti hakim yang menilai,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Government Watch (Gowa) Andi Saputra bahwa perang Baratayudha antara SBY dan Setya Novanto masih berjalan. Perang keduanya terjadi setelah nama SBY dimunculkan oleh mantan wakil bendahara Partai Demokrat, Mirwan Amir saat menjadi saksi dalam persidangan kasus e-KTP untuk terdakwa Setya Novanto.

Disisi lain, pengamat politik Indro Tjahyono bahwa ocehan Setya Novanto tersebut terkait upaya untuk membuka kotak pandora yang sampai saat ini terkunci rapi di ruangan KPK.

Bagi orang yang paham sebenarnya sudah mahfum bahwa proyek-proyek raksasa di era politik liberal adalah bagian dari modus untuk kumpulkan dana politik. Pada masa SBY ada dua proyek besar, yang dua-duanya ditempatkan di Kemendagri yakni E-KTP dan pembentukan Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan).