Hendak Nyeberang ke Filipina, Simpatisan ISIS Asal Banten Ditangkap



68 Views

Terduga teroris asal Banten, Abu Musad (AM) ditangkap Polda Sulawesi Utara bersama dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri pada Sabtu, 11 November 2017. Ia ditangkap saat hendak menyeberang ke Filipina melalui Kepulauan Sangihe, Sulut.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan, Abu Musad merupakan seorang simpatisan jaringan teroris Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

Awalnya Abu Musad ditangkap aparat TNI Angkatan Laut di perbatasan Sangihe Lautan. Gerak-geriknya dianggap mencurigakan sehingga TNI membawanya Pangkalan Utama TNI AL di sana, lalu diserahkan kepada Densus.

“Dia diamankan oleh Lantamal saat berada di perbatasan Indonesia-Filipina, di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Dia salah satu simpatisan ISIS, dia mau bergabung ke Filipina selatan,” kata Setyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (13/11/17).

Kemudian saat dilakukan pemeriksaan, kata Setyo, Musad mengakui memang hendak ke Filipina Selatan. Hasil lainnya, ditemukan juga beberapa nomor kontak dengan nama-nama kelompok radikal di Filipina Selatan pada ponselnya.

saat ini Densus 88 Antiteror telah melakukan pendalaman terhadap orang tersebut. Abu Musad juga telah diterbangkan dari Manado menuju Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan lebih intensif.

“Kemarin sudah didalami sama Densus 88 dan hari ini diterbangkan ke Jakarta. Karena dia menyeberang ke Filipina, dia ditangkap karena dicurigai. Identitasnya dari Banten. Lalu dibawa ke Mako Lantamal dan diserahkan ke Polda Sulut. Kemudian dari Polda Sulut dibawa ke sini. Kemungkinan hari ini sudah sampai Jakarta,” ujarnya.

Penyidik memiliki waktu 7×24 jam untuk memeriksa AM sebelum menetapkannya sebagai tersangka teroris bila ditemukan bukti yang cukup.

Tak sedikit WNI yang bergabung dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) menjadi sorotan dunia. Umumnya mereka yang baiat ke ISIS dan ke luar Indonesia karena tertarik untuk hidup di negara dengan ideologi Islam. Tapi faktanya, sampai sekarang sudah kita lihat yang tertahan di perbatasan. Itu ternyata mereka dibohongi, artinya propaganda dan janjinya tidak sesuai yang diharapkan. Adapula yang kecewa setelah bergabung disana, lalu kemudian mereka juga susah untuk keluar dari sana.

ISIS adalah sebuah paham radikal yang banyak mempengaruhi banyak umat Muslim di dunia termasuk Indonesia. Banyak pula yang pernah terpikat dengan paham ISIS dan berdomisili di Suriah kini melarikan diri karena sadar bahwa ISIS menipu mereka.

Mereka mengungkapkan kekecewaannya saat memutuskan bergabung dengan ISIS di Suriah. Hampir setiap minggu mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang kebiadaban militan ISIS.

Hal itu disampaikan oleh mantan pengikut ISIS yang akhirnya sadar. Pada 2014 silam, Nurshardrina mengajak keluarganya bergabung dengan ISIS melalui Turki. Ia bersama keluarganya menjual semua harta benda demi membiayai perjalanan ke Raqqa. Mereka menceritakan, hidup bersama ISIS sangat mengerikan. Semua tindakan mereka sangat melenceng dengan ajaran Islam. Para tentara hidup enak, sementara warga sipil sangat menderita.

“Pembohong, jangan percaya dengan media mereka, semoga tidak ada ISIS lagi jangan asal bunuh, sesama Islam aja mereka bunuh,” kata Nurshardrina.

Pemerintah Indonesia berkomitmen akan memerangi terorisme, untuk itu diharapkan kepada aparat keamanan, baik Polri, TNI, BNPT agar terus meningkatkan kewaspadaan serta menindak para anggota yang terlibat dan bergabung dengan ISIS. Sebab apa yang mereka lakukang jelas tidak sesuai dengan Pancasila dan mengancam kedaulatan NKRI.