Garis Tangan Sandi Sama Dengan Prabowo Tak Akan Bisa Menjadi Pemimpin



2,863 Views

Bataraonline – Karakteristik licik merupakan salah satu sifat buruk yang tentunya harus selalu dihindari. Licik dapat berarti banyak hal, mulai dari akal yang buruk, curang, pandai menipu, lihai, culas, dan lainnya. Untuk itu, sifat licik tentu saja akan merugikan diri sendiri dan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Untuk itu, jangan sampai sifat licik ada di dalam diri anda sendiri. Selain itu, anda juga perlu menghindari orang-orang yang memiliki sifat licik karena tentunya akan membahayakan anda kedepannya, apalagi pada calon pemimpin bangsa yang saat ini sedang berkampanye untuk meyakinkan rakyat Indonesia dengan berbagai drama dan rekayasa dalam setiap kunjungan Kampanyenya.

Sandiaga Uno calon wapres pada pilpres 2019 yang mendampingi capres Prabowo Subianto secara tegas disebut licik oleh ibu angkatnya sendiri Lily Soeryadjaya, istri William Soeryadjaya pendiri Astra Grup.

Nama klan Soeryadjaya memang tidak bisa lepas dari Sandiaga. Bagaimana tidak? Kesuksesan bisnis Sandiaga tak lepas dari keluarga tersebut. Sandiaga adalah salah satu ‘murid’ berbisnis William Soeryadjaya, yang akrab disapa Oom Willem.

Bisnis Sandiaga dimulai pada 1997. Saat itu, ia bersama Rosan Perkasa Roeslani mendirikan perusahaan penasihat keuangan bernama PT Recapital Advisors. Rosan kini menjadi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Setelah mengenal Oom Willem, kedekatan Sandiaga dengan klan Soeryadjaya berlanjut. Pada 1998, Sandiaga dan Edwin Soeryadjaya, putra kedua Oom Willem, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. Perusahaan itu berkecimpung di bisnis pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.

“Sandi terlalu pintar…(tapi) pinternya nggak enak… Licik ! dia kepengennya menang sendiri !” tegas Ibu Lily Soeryadjaya yang bernama asli Lily Anwar itu.

Kelicikan Sandiaga Uno ditunjukkan saat dirinya mencalonkan diri maju menjadi wagub DKI Jakarta mendampingi Anies Baswedan. Sandi, Anies, Partai Gerindra dan seluruh pendukungnya baik parpol maupun ormas-ormas ekstrimis seperti FPI dan HTI bergabung menghantam petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat itu dengan isu agama.

Isu agama yang kemudian mengakibatkan demonstrasi besar-besaran kepada pemerintahan Jokowi-JK yang dituding melindungi Ahok dari proses hukum. Ternyata tujuan Sandi saat itu adalah menuju Istana Merdeka bergandengan dengan pimpinannya Prabowo Subianto yang masih menyimpan ambisi untuk merebut kekuasaan RI1.

Namun perlahan strategi licik dari Sandiaga Uno, Prabowo, Hashim dan seluruh lingkaran elite Partai Gerindra dan parpol pendukung Prabowo-Sandi Akhirnya terungkap satu demi satu. Ahok terbukti secara sah dan meyakinkan memang melakukan penistaan agama, sehingga tudingan pada pemerintahan Jokowi-JK yang melindunginya langsung bubar. Pun ketika Jokowi menunjuk dedengkot gerakan 212 KH. Ma’ruf Amin untuk mendampinginya seluruh rekayasa politik identitas yang dipersiapkan sejak 2014 lalu dengan isu kebangkitan PKI/Komunis dan penindasan kepada Agama khususnya agama Islam di Indonesia ini langsung bubar di tempat.

Tak mampu lagi memainkan politik identitas yang dapat membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa, Sandiaga Uno memainkan permainan lain dalam rangka menarik perhatian masyarakat untuk mendukungnya. Berbagai rekayasa dan sandiwara dilakukannya yang kemudian dibongkar oleh netizen dunia maya membuatnya tak berkutik ketika tagar #SandiwaraUno berkibar berhari-hari di media sosial Twitter.

Pada tahun 2010 Sandiaga Uno pernah berniat untuk menjadi Ketua KADIN, namun dirinya gagal dan dicela oleh Aburizal Bakrie

“Elo gak bakalan jadi pemimpin. Garis tangan loe busuk !!!” demikianlah kira-kira celaan yang diucapkan Aburizal Bakrie kepada Sandiaga Uno saat itu

Celaan Aburizal Bakrie tersebut membuat Sandiaga Uno dendam dan berambisi untuk menjadi pemimpin suata saat kelak

“Suatu saat gue jadi PEMIMPIN buat buktiin celaan Ical salah,” demikianlah kira-kira yang diucapkan Sandiaga Uno untuk memotivasi dirinya

Sandiaga Uno mulai melancarkan sejumlah operasi, dimana sebelum masuk dalam menteri zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beliau juga sempat menjadi kandidat Bendahara Umum Partai Demokrat dan pada tahun 2012 Sandiaga Uno sempet masuk kandidat dalam cawagub DKI Jakarta yang mau dipasangkan dengan Joko Widodo (Jokowi), namun saat itu nama Sandiaga Uno dicoret oleh Prabowo Subianto

Selain celaan yang diucapkan Aburizal Bakrie kepada Sandiaga Uno, ada satu hal lainnya yang mendorong Sandiaga Uno untuk terjun ke dunia politik, yaitu karena Sandiaga Uno akan disingkirkan dari kerajaan bisnis Saratoga yang selama ini telah membesarkan beliau, mengingat keturunan ketiga dari keluarga Soeryadjaya, yaitu anak-anak dari Edward Soeryadjaya telah siap untuk memimpin kerajaan bisnis Saratoga, sehingga Sandiaga Uno memutuskan untuk hengkang dari kerajaan bisnis Saratoga sebelum ditendang keluar oleh anak-anak dari Edward Soeryadjaya

Hal lainnya yang menarik dalam perjalanan bisnis Sandiaga Uno ialah bahwa sebenarnya keluarga Soeryadjaya hanya meminjam nama Sandiaga Uno dalam kerajaan bisnis Saratoga, namun karena kelicikan dan keculasan Sandiaga Uno, Edward Soeryadjaya melaporkan Sandiaga Uno ke polisi atas tuduhan pemalsuan dan penggelapan dokumen pembangunan Depo Balaraja serta penipuan atau penggelapan atau penadahan dan atau Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terkait aset PT Japirex berupa sebidang tanah yang berlokasi di Tangerang, Banten Selatan

Dengan modal pernah menjadi calon Ketua KADIN, meski akhirnya gagal, Sandiaga Uno terjun ke dunia politik, dimana awalnya Sandiaga Uno mau masuk ke Partai Demokrat dan menggantikan Nazarudin sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat, namun rencana tersebut gagal, karena saat itu Partai Demokrat babak belur dihajar dengan kasus korupsi yang menjebloskan sejumlah kadernya ke dalam penjara dan juga ketidaksenangan ibu suri Partai Demokrat kepada Sandiaga Uno saat itu

Setelah beberapa kali berbicara dari hati ke hati dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan juga setelah melakukan perenungan, dan serta berkonsultasi dengan keluarga, Sandiaga Uno memtuskan untuk bergabung dengan Partai Gerindra sebagai anggota Dewan Pembina Partai Gerindra

“Saya sebetulnya komtemplasinya cukup dalam, bicara hati ke hati dengan Mas Prabowo. Untuk mewujudkan Indonesia yang kuat, (saya) diajak partisipasi anak muda dan pegiat kewirausahaan,” ungkap Sandiaga Uno, sebagaimana dilansir news.detik.com (08/04/2015)

Meski demikian, ada fakta yang terungkap di balik bergabungnya Sandiaga Uno dengan Partai Gerindra tersebut, dimana jabatan anggota Dewan Pembina Partai Gerindra diberikan kepada Sandiaga Uno tersebut sebagai kesepakatan awal Sandiaga Uno dengan Hasyim Djojohadikusumo (adik dari Prabowo Subianto) untuk membiaya Partai Gerindra, atau dengan kata lain, Sandiaga Uno dijadikan sebagai ATM nya Partai Gerindra.

Sandiaga Uno walau sering bergaya slengekan bahkan KEMAYU ternyata mampu menjadi “pembunuh yang keji” bak pendekar Jai Hwa Cat yang pintar merayu namun sekali bertindak bikin musuh kejang-kejang.

Ketika Andi Arief memberondong koalisi Prabowo dengan Tudingan Kardus, bom molotov dilemparkan oleh koalisi sendiri. Upeti 500M yang awalnya ditawarkan ke Parta Demokrat untuk “MENGKUDETA” Prabowo akhirnya dialihkan ke PKS-PAN untuk membajak Demokrat.

Komitmen Setoran 500M untuk PKS / PAN awalnya disenyapkan sebagai konspirasi teori. Namun setelah dibongkar oleh Andi Arief, Sandi mulai blingsatan. Dan akhirnya sandi mengakui bahwa upeti tersebut adalah untuk Dana Kampanye pilpres. Dan akan di konsultasikan ke KPK. Pengakuan Sandi ini diakui atau tidak justru membunuh harapan PKS – PAN.

Ketika upeti tersebut disenyapkan, kompensasi 500M bisa jadi modal perjuangan partai dan pengurus. Ngalah demi modal 500M adalah hal normal. Yang penting kantong tebal dulu. Dan ini tentu sudah ada komitmen PKS/PAN bahwa sudah resmi mendukung Prabowo-Sandi.

Dan SESUAI ATURAN parpol tidak bisa menarik dukungan pada pasangan yang dicalonkan. Setelah itu Sandi memainkan drama liciknya. Mengakui upeti sebagai dana kampanye dan akan di konsultasikan ke KPK membuat PKS dan PAN tidak berkutik lagi dan serigala tersebut menyeringai dengan liciknya.

Orang licik nafsunya tak berujung dan bila mendapat kekuasaan dia akan mampu menenggelamkan suatu bangsa apapun besarnya seperti Indonesia, waspadalah…waspadalah.