Ekspor Otomotif ke Australia Terbuka Lebar, Menperin Targetkan 1,2 Juta Kendaraan



689 Views

Industri otomotif Indonesia semakin bergeliat di era pemerinntahan Presiden Joko Widodo. Dengan kemajuan yang cukup pesat ini, Indonesia membidik ekspor otomotif dengan potensi hingga 1,2 juta unit kendaraan ke Australia setelah Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) ditandatangani.

Melalui Perjanjian IA-CEPA, Indonesia juga memproyeksi mampu menggenjot ekspor mobil listrik dan hybrid ke Australia dengan tarif preferensi nol persen.

“Pasar yang terbuka yang ditargetkan menjadi primadona ekspor ke Australia adalah otomotif karena marketnya cukup besar 1,2 juta kendaraan karena industrinya di Australia sudah tutup semua,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Untuk memenuhi kebutuhan kendaraan roda empat, selama ini Australia mengandalkan impor dari beberapa negara seperti Thailand, Jepang, China, dan India.

Saat ini, lanjut Airlangga mengatakan pesaing industri otomotif Indonesia di ASEAN hanya Thailand. Dengan dibukanya CEPA dengan Australia, ditargetkan ekspor otomotif Indonesia bisa melewati Thailand.

Untuk diketahui, produksi Thailand lebih tinggi dari Indonesia yakni sebesar 2,1 juta unit dengan ekspor 1,1 juta unit, sedangkan Indonesia produksinya 1,3 juta unit dan ekspor 346 ribu unit.

Berdasarkan tipe, permintaan mobil di Australia, jika digabung mobil penumpang dengan tipe Sport Utility Vehicle (SUV), setiap tahun bisa mencapai 70 persen dari total pasar di negeri tersebut.

Mobil penumpang kerap kali diisi jenis mobil sedan ataupun crossover, sedangkan SUV serta mobil komersial yang paling banyak diburu tak lain adalah kabin ganda.

Daftar merek mobil paling laris di Australia antara lain Mazda 3, Toyota Corolla, Camry, Holden Toyota RAV 4, dan Hyundai i30. Selain itu, mobil-mobil kabin ganda seperti Toyota Hilux, Ford Ranger, serta Isuzu D Max mencatatkan penjualan moncer.

Penjualan Toyota di Australia mencapai rata-rata 200.000 unit per tahun. Dengan hitungan tersebut, merek asal Jepang itu menguasai rata-rata 17,5 persen pasar otomotif.