Eggi Sudjana Minta Presiden Intervensi Polri, Jebakan Apalagi ini?



843 Views

Tersangka kasus dugaan makar Eggi Sudjana menyebut jika dirinya ditahan usai pemeriksaan maka polisi telah melakukan kriminalisasi.

Namun ia juga mengatakan Presiden bisa mencegah hal itu terjadi. Presiden, menurut Eggi, boleh mengintervensi karena menjabat sebagai pemimpin negara.

“Kalau ditahan ini kriminalisasi terjadi, Polri tidak promoter (profesional, modern, dan terpercaya) dan Jokowi bisa perintahkan ke Kapolri untuk tidak ditahan kalau dia berdemokrasi yang benar,” kata Eggi di Polda Metro Jaya, Senin (13/5).

“Jadi jangan lagi pakai alasan wah itu tidak boleh intervensi, Anda jangan lupa pemimpin di negeri ini, Anda itu pimpinan Kapolri, TNI dan semua angkatan perang, Anda panglimanya jadi bisa diperintah. Itu adalah instruksi,” imbuh dia.

Bisa jadi Eggi berupaya mengirim isyarat kepada Presiden, bahwa Polri adalah institusi yang dapat diperintah oleh Presiden untuk kepentingan apapun, termasuk meminta agar dirinya dibebaskan dari konsekwensi hukum.

Ia mencoba menjebak Presiden Jokowi agar mengintervensi Polri, padahal selama ini Presiden Jokowi konsisten menghindari persepsi bahwa dirinya dapat mengintervensi penegakan hukum di Indonesia.

Publik dalam hal ini perlu mewaspadai gelagat tak baik di balik tuntutan Eggi. Kita tahu selama ini Presiden Jokowi secara konsisten menghindari persepsi bahwa dirinya dapat mengintervensi hukum termasuk institusi Polri. Yang dimaksud intervensi di sini, pada kasus yang menyangkut orang per orang.

Permintaan Eggi Sudjana kepada Presiden Jokowi untuk melakukan intervensi hanyalah taktik untuk menjebak lawan politik. Sesungguhnya ia setengah berharap penahanan itu benar-benar terjadi, agar secara politik dirinya bisa dipandang sebagai korban kesewenang-wenangan Pemerintah.

Perlu diketahui, pengertian intervensi adalah ketika Presiden memerintahkan Polri dalam penegakan hukum secara global, sebagai misal dalam kasus Mafia Pangan, yang pada masa lalu sempat menjadi isu panas.

Selain itu, kita juga ingat kasus dimasa lalu, Presiden menyampaikan bahwa dirinya memaafkan seorang tersangka yang menghina Presiden secara pribadi. Orangtua Muhammad Arsyad, tersangka pelaku penghinaan dan pencemaran nama baik serta pelanggar hukum pornografi, menemui Presiden dan menyampaikan permintaan maaf atas kelancangan anaknya.

Saat itu seketika Presiden pun meluluskan permintaan maaf tersebut. Arsyad pun melenggang dari jeratan kasusnya. Adakah Eggi akan meminta perlakuan sama dengan seorang tukang sate?

Hal yang membedakan kasus Eggi dengan Arsyad, adalah kapasitas seorang pengacara kondang, yang diyakini sangat paham tentang hukum, semestinya jauh lebih bijak dalam berujar di ranah publik.

Kalau seorang tukang sate menjadi korban dari situasi politik, sehingga dirinya yang mendukung lawan Jokowi, tersulut dengan provokasi yang dilakukan penyandang status sosial di atasnya, sangat wajar mendapat maaf.

Namun untuk sekelas Eggi Sudjana, jangankan mengintervensi Polri, Presiden barangkali justru berharap Eggi terlebih dahulu meminta maaf, sebagaimana orangtua Arsyad melakukannya. Urusan pemberian privilege adalah persoalan berikutnya. Pertanyaannya,
maukah Eggi mengiba kepada Jokowi?