Di Arab Islamic America Summit, Jokowi Paparkan Jurus Tangkal Terorisme



25 Views

JAKARTA –  Di hadapan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-saud dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta peserta Arab Islamic America Summit atau Konferensi Tingkat Tinggi Arab Islam Amerika, Presiden Joko Widodo membeberkan cara Indonesia mengatasi persoalan radikalisme dan terorisme.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) itu digelar di King Abdulaziz Convention Center pada Minggu (21/5/2017). Dalam kegiatan ini, Jokowi didampingi Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komjen Pol Suhardi Alius, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel.

Ada 39 Kepala Negara/Pemerintahan yang telah hadir di KTT. Di  forum ini Presiden Jokowi menyampaikan pesan dan berbagi pengalaman kepada dunia Internasional dalam upaya Indonesia melawan radikalisme dan terorisme.  Jokowi juga akan menyampaikan pentingnya kerja sama internasional dalam pemberantasan radikalisme dan terorisme.

Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan sejarah mengajarkan bahwa senjata dan kekuatan militer saja tidak akan mampu mengatasi terorisme. “Pemikiran yang keliru hanya dapat diubah dengan cara berpikir yang benar,” ujar Jokowi.

Menurut okowi, Indonesia meyakini pentingnya menyeimbangkan pendekatan hard-power dengan pendekatan soft-power. Selain pendekatan hard-power, Indonesia juga mengutamakan pendekatan soft-power melalui pendekatan agama dan budaya.

“Untuk program deradikalisasi, misalnya, otoritas Indonesia melibatkan masyarakat, keluarga, termasuk keluarga mantan nara pidana terorisme yang sudah sadar; dan organisasi masyarakat,” kata Jokowi.

Untuk kontra radikalisasi, lanjut Presiden, antara lain Indonesia merekrut para netizen muda dengan follower yang banyak untuk menyebarkan pesan-pesan damai.

“Kita juga melibatkan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk terus mensyiarkan Islam yang damai dan toleran,” kata Jokowi.

“Pesan-pesan damailah yang harus diperbanyak bukan pesan-pesan kekerasan. Setiap kekerasan akan melahirkan kekerasan baru,” papar Jokowi.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga mengatakan bahwa pertemuan ini memiliki makna yang penting untuk mengirimkan pesan kemitraan dunia Islam dengan Amerika Serikat. Serta menghilangkan persepsi bahwa Amerika Serikat melihat Islam sebagai musuh.

“Yang lebih penting lagi pertemuan ini harus mampu meningkatkan kerja sama pemberantasan terorisme dan sekaligus mengirimkan pesan perdamaian kepada dunia,” ujar Presiden.

Jokowi menjelaskan bahwa ancaman radikalisme dan terorisme terjadi di mana-mana. Indonesia adalah salah satu korban aksi terorisme, serangan di Bali terjadi tahun 2002 dan 2005 dan serangan di Jakarta terjadi Januari 2016.

“Dunia marah dan berduka melihat jatuhnya korban serangan terorisme di berbagai belahan dunia di Perancis, Belgia, Inggris, Australia dan lain-lain,” ucap Jokowi.

Dunia seharusnya juga sangat prihatin terhadap jatuhnya lebih banyak korban jiwa akibat konflik dan aksi terorisme di beberapa negara seperti Irak, Yaman, Suriah, Libya. “Umat Islam adalah korban terbanyak dari konflik dan radikalisme terorisme,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan jutaan orang harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Jutaan generasi muda kehilangan harapan masa depannya. “Kondisi ini membuat anak-anak muda frustasi dan marah. Rasa marah dan frustasi ini dapat berakhir dengan muculnya bibit-bibit baru ektremisme dan radikalisme,” kata Presiden. []