BSSN Kawal dan Jaga Websitie KPU dari Serangan Hacker



1,695 Views

Serangan hacker yeng meretas situs lembaga penyelanggara Pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi perhatian seirus Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Direktur Deteksi Ancaman Deputi I BSSN, Sulistyo menegaskan, BSSN siap menjaga keamanan situs KPU sampai pelaksanaan Pemilu 2019 selesai.

BSSN sendiri meyakini, bahwa sejauh ini kondisi situs KPU masih aman meski ada upaya pihak-pihak yang meretas.

“Jadi kami sampaikan bahwa kondisi (website) KPU, selalu berkoordinasi dengan kami, adalah kondisinya siap untuk melakukan proses dari kegiatan Pemilu sampai 17 April nanti. Jadi fungsi kami mengawal dari luar dan menjaga,” kata Sulistyo di kantornya, Jakarta, Jumat (15/3).

Untuk itu, pihaknya terus berupaya melakukan mitigasi dari serangan hacker. Serta memberikan masukan-masukan kepada KPU.

“Kami tidak akan henti untuk terus memberikan masukan-masukan dan laporan dan cara antisipasi, dan direspons dengan cepat oleh teman-teman KPU,” jelasnya.

Berdasarkan laporan sepanjang 2018, Sekretaris Utama BSSN, Syahrul Mubarak mengungkapkan sebanyak 205 kali serangan siber di Indonesia.

“Saya yakin itu tidak akan berhenti, apalagi situasi sekarang, pasti meningkat. Jadi kita tak bisa katakan tidak serangan. Kita menjaga,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua KPU Arief Budiman membenarkan situs lembaganya pernah diretas dengan IP (Internet Protocol) Address dari China dan Rusia.

Meski banyak IP Address dari berbagai negara yang meretas situs KPU. Namun, Arief belum bisa menyimpulkan bahwa peretasnya berasal dari China, Rusia, dan negara lainnya.

“Hacker ( peretas) itu menggunakan IP Address dari mana aja. Ada IP Address dari banyak negara lah. Jadi bukan hanya China dan Rusia, enggak, dari banyak negara,” ungkapnya usai rapat kesiapan penyelenggaraan Pemilu 2019, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di Jakarta, Kamis (14/3).

Arief menambahkan, tak menutup kemungkinan bahwa peretas itu bisa berasal dari luar negeri dengan menggunakan IP Address Indonesia untuk menyamarkan asalnya.

“Bisa saja IP Address-nya dari luar negeri. Tapi pelakunya ya orang-orang kita juga. Orang Indonesia juga. Tapi bisa juga menggunakan IP Adress Indonesia tapi orangnya dari luar. Bisa juga. Kalau kemarin ada yang nulis hacker dari China dan Rusia, enggak (begitu),” pungkasnya.

Kendati demikian, sejauh ini lanjut arief mengatakan KPU sudah berkoordinasi dengan sejumlah lembaga terkait seperti Badan Intelijen Negara, Badan Siber dan Sandi Negara, Polri, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

“Sampai hari ini bisa kami selesaikan semua. Ada yang sekadar di-facing saja, ada yang sampai mencoba mau masuk ke dalam sistem induk kami. Tapi semua sudah bisa kami atasi,” kata dia.