Bocor Sejak Orba, Mengapa Dulu Prabowo Tak Bersuara?

Bocor Sejak Orba, Mengapa Dulu Prabowo Tak Bersuara?

35 Views

Mari kembali ke pilpres 2014. Kala itu, Prabowo juga menyebut soal kebocoran kekayaan negara senilai Rp 1000 triliun. Flashback ini penting agar kita dapat memetakan inti dari masalah kebocoran. Apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan Prabowo dengan isu ini?
“Masalah kebocoran/potensi kekayaan negara yang hilang menjadi pembicaraan hangat pasca debat capres pada 15 Juni 2014. Ada pihak yang menganggap itu sebagai kebocoran anggaran (APBN) namun ada juga yang memahami sebagai kebocoran kekayaan negara secara umum.

Anggota tim ekonomi Capres-Cawapres Prabowo-Hatta, Didik J Rachbini menegaskan bahwa maksud kebocoran Rp 1.000 triliun yang disampaikan Prabowo Subianto adalah kebocoran kekayaan negara per tahun. Kebocoran dari sumber-sumber penerimaan maupun belanja negara, bukan hanya kebocoran APBN secara khusus.

“Jadi itu tepatnya Rp 1.134 triliun, kebocoran kekayaan negara ada setengah lusin sumbernya,” kata Didik dan tim Prabowo-Hatta lainnya saat berkunjung ke kantor detik.com, Kamis (19/6/2014)
Didik menjelaskan kebocoran kekayaan negara tersebut berasal dari berbagai sumber, yang selama ini tak bisa ditutup oleh pemerintahan yang pernah berkuasa.

“Kebocoran di sini bukan maksudnya menohok Pak Hatta (Mantan Menko Perekonomian), kebocoran terjadi sejak zaman Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, hingga SBY,” katanya.

Pertama, kebocoran dari belanja APBN. Menurut Didik, jika merujuk pendapat ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo, kebocoran terjadi mencapai 30 persen. Jika saat ini dihitung terjadi kebocoran mencapai 25 persen dari APBN, maka angka Rp 400 triliun masih masuk akal. (finance.detik.com)

Apa poin dari informasi di atas? Poinnya adalah kebocoran negara berasal dari berbagai sumber, terjadi mulai zaman Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak satu pun dari mantan presiden itu yang mampu mengatasinya. Salah satu rujukannya adalah pendapat ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo. Bapak dari Prabowo Subianto.

“Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK tak membantah pernyataan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, yang mengatakan anggaran negara mengalami kebocoran. Namun ia menolak jika dikatakan jumlahnya mencapai 25 persen. Indikasi kebocoran tersebut terlihat dari banyaknya aparat pemerintah yang dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Pasti bocor tapi tidak berlebihan seperti itu,” kata Jusuf Kalla di Markas Pusat Palang Merah Indonesia (PMI), Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019.” (tempo.co)

Sri Mulyani pun menyentil perilaku kementerian atau lembaga yang melakukan mark-up anggaran. “Bayangkan kalau mereka memberikan mark-up bertambahnya 8-10 persen jadi kita over budgeting, seharusnya defisit tidak terlalu besar.” (tempo.co)

WARISAN ORDE BARU
“Kebocoran di sini bukan maksudnya menohok Pak Hatta (Mantan Menko Perekonomian), kebocoran terjadi sejak zaman Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, hingga SBY,” katanya. Ya, Soeharto, mertua Prabowolah yang seharusnya paling bertanggung jawab atas kebocoran anggaran ini. Di era Soeharto tumbuh begitu subur KKN. Utamanya bagi orang-orang terdekat dengan Soeharto. Dan memang nama Soeharto adalah jaminan lancarnya suatu proyek.

Nah, bibit KKN itulah yang ditanam Soeharto di kepemimpinannya selama kurang lebih 32 tahun menjadi presiden. Dan hingga kini praktek KKN itu berakar kuat dalam lembaga-lembaga negara. Oknum-oknum pejabat negara dengan kesadaran penuh melakukan tindak korupsi. Dengan sengaja menggelembungkan biaya perjalanan dinas. Biaya makan. Melakukan pungutan liar. Dan sebagainya. Bahkan semboyannya adalah “kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah”. Itu untuk menggambarkan kalau ada uang urusan lancar.

Jadi, kebocoran anggaran keuangan negara ini sejatinya warisan orde baru. Seoharto. Mantan mertua Prabowo. Pertanyaannya, ke manakah Prabowo selama menjadi menantu Soeharto? Padahal potensi kebocoran keuangan negara sudah diprediksi oleh Soemitro Djojohadikoesoemo, bapaknya Prabowo. Kenapa baru sekarang teriak-teriak keuangan negara bocor? Sementara ketika Soeharto menjadi presiden Prabowo diam saja.

SBY itu mantan jendral. Kurang apa tegasnya? Kurang apa disiplinnya? Kurang apa gagahnya? Pada debat pilpres 2014 lalu, Prabowo menyebut bahwa kebocoran keuangan negara mencapai Rp 1000 triliun, berarti termasuk di periode SBY. Presiden selama 10 tahun. Bahkan menko perekonomian kala itu termasuk Hatta.

Kini Prabowo bilang kebocoran Rp 500 triliun atau 25 persen dari APBN. Di sinilah Jokowi hebat. Hebat karena berhasil menurunkan angka kebocoran dari Rp 1000 triliun menjadi Rp 500 triliun hanya dalam 4 tahun 5 bulan. Baru satu periode, sudah berkurang setengahnya. Kalau dua periode, kebocoran negara yang disebabkan oleh Soeharto, mantan mertua Prabowo, tersumbat oleh Jokowi.