Berpeluang Tumbuh 5,2 Persen, Ekonomi RI Diyakini Lebih Baik



763 Views

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menybut, Pemerintah Indonesia masih berpeluang meraih pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada 2019, setelah pada kuartal I kemarin hanya mencapai 5,07 persen.

Adapun yang faktor pendorong antara lain konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.

Menurut Andry, konsumsi rumah tangga menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) paling besar, maka dorongan tersebut bisa membuat ekonomi ikut terkerek.

Sekadar informasi, konsumsi rumah tangga mengambil porsi 58,62 persen terhadap PDB kuartal I lalu.

Jika dirinci ada bebrapa hal yang bisa mendorong konsumsi kuarta II. Pertama, adalah kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejak April kemarin. Apalagi, kenaikan gaji tersebut juga berimbas pada jumlah Tunjangan Hari Raya (THR) yang didapat abdi negara.

Kemudian, kuartal II juga bertepatan dengan momen ramadan dan idul fitri. Jika melihat tren tahunan, konsumsi masyarakat memang selalu membuncah jelang perayaan hari raya.

Tak ketinggalan, musim panen yang bergeser dari Maret menjadi April di tahun ini menambah pendapatan pekerja sektor agrikultur, yang ujungnya juga meningkatkan konsumsi rumah tangga.

“Secara karakteristik, konsumsi ini akan membaik di kuartal II dan bukan tidak mungkin menyumbang pertumbuhan ekonomi mencapai 5,22 persen hingga akhir tahun,” jelas Andry, Rabu (15/5).

Lepas triwulan II, lanjut dia, konsumsi akan ditemani investasi dan belanja pemerintah sebagai faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan IV.

Untuk konsumsi, beberapa faktor pendorongnya adalah gaji ke-13 PNS yang diperkirakan terbit Juli serta bantuan sosial yang digelontorkan pemerintah.

Pada kuartal I, pencairan bantuan sosial sudah terbilang agresif dengan nilai Rp36,97 triliun, atau tumbuh 106,62 persen dari tahun lalu.

Jika dilihat dari segi investasi, pelaku usaha akan kembali melakukan ekspansi setelah sebelumnya menunggu hasil pemilu di kuartal I (wait and see).

“Harapannya, kuartal III dan IV investasi akan lebih baik, sehingga total pertumbuhan investasi di 2019 bisa mencapai 7,1 persen,” imbuh dia.

Menurutnya, dorongan ekonomi domestik sangat perlu demi mengimbangi pengaruh negatif kinerja ekspor, yang diperkirakan masih akan membebani Indonesia hingga akhir tahun nanti. Menurut Andry, ekspor di tahun ini masih belum pol lantaran terpengaruh efek perang dagang AS dan China.

Bahkan, kinerja ekspor yang tak mumpuni sudah terasa sejak awal tahun. BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$2,56 miliar dari Januari hingga April.

“Jadi memang di saat pertumbuhan sisi eksternal turun drastis, yang harus didorong adalah ekonomi domestik. Di sini, seharusnya pemerintah melakukan kebijakan anggaran sebagai stimulus agar konsumsi dan investasi tetap bisa menopang pertumbuhan ekonomi,” pungkas dia.