Beberapa Ritel Konvensional Tak Terpengaruh dengan Perkembangan E-commerce



Bataraonline – Perubahan pola konsumsi masyarakat di era serba digital ini bukan hal yang harus dikhawatirkan. Persoalannya hanya pada kesiapan kita dalam mengahadapi serangan bisnis berbasis daring/online. Namun bukan berarti keberadaan e-commerce sepenuhnya menggerus pasar ataupun ritel konvensional.

Melemahnya sektor ritel konvensional yang diakibatkan dengan melemahnya daya beli masyarakat tidak mutlak karena persaingan bisnis online yang mengakibatkan ketidakmampuan konvensional dalam menghadapi perubahan tersebut.

Hal inipun tidak hanya dialami oleh Indonesia saja, di seluruh dunia pun ikut mengalami hal yang sama.

Memang tak dapat dipungkiri, Indonesia sendiri mengalami peningkatan e-commerce secara signifikan, di mana rata-rata pertumbuhan marketplace e-commerce mencapai 289 persen pada periode Januari hingga Juni 2017.

Akan tetapi tidak semua ritel konvensional mengalami penyusutan pendapatan. Contohnya saja PT Matahari Department Store Tbk. Tercatat, penjualan kotor Matahari sebesar Rp13,2 triliun, bertahan di level yang sama seperti tahun lalu. Perseroan juga berhasil memberikan pendapatan bersih yang stabil sebesar Rp7,5 triliun. Meski Same store sales growth menurun 2,7% terutama akibat dari pelemahan daya beli konsumen yang terjadi. Namun untuk laba bersih pada kuartal ke III 2017 tercatat sebesar sebesar Rp1,5 triliun, ekuivalen 11,4% dari penjualan.

Tutupnya sejumlah gerai matahari tidak serta merta menggambarkan neraca perdagangan secara umum karena.

Sebab saat ini Matahari memiliki 154 gerai di 71 kota di Indonesia, termasuk 5 gerai baru yang dibuka sampai dengan bulan September 2017, yaitu di Tegal (Jawa Tengah), Madiun, Jember (keduanya di Jawa Timur), Medan (Sumatera Utara), dan Cirebon (Jawa Barat). Bahkan pihaknya berencana untuk membuka 1-3 gerai baru lagi sampai dengan akhir tahun ini.

Menurut Richard Gibson, CEO dan Vice President Director Perseroan mengatakan, tengah fokus pada rencana strategis dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan setia, serta menarik pelanggan yang baru.

“Saat ini kami sedang berada pada tahapan evolusi penting dimana kami akan memperkenalkan berbagai cara inovatif untuk semakin meningkatkan pengalaman berbelanja pelanggan kami baik melalui peningkatan pada gerai dan juga pada produk merchandise yang ditawarkan,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, melakukan strategi kemitraan dengan Disney yang memungkinkan pihaknya untuk menghadirkan produk-produk yang menarik dan eksklusif dan menampilkannya dengan cara yang berbeda sehingga dapat memberikan pengalaman belanja yang lebih menarik.

Perubahan tak bisa ditolak, namun harus dihadapi dengan inovasi dan kreatifitias agar semangat membangun perekonomian tetap bertahan.

Adanya pihak-pihak mengatakan bahwa pendapatan masyarakat kian hari semakin merosot akibatnya daya jual beli masyarakat ikut menurun menjadi tidak juga mewakili kenyataan pasar.

Memang benar, pada tahun 2013 tercacat 82 juta masyarakat Indonesia menggunakan smartphone sedangkan pada tahun 2017 sudah mencapai angka 174 juta jiwa masyarakat Indonesia yang menggunakan smartphone. Namun bukan berarti kenyataan ini lantas dijadikan alibi pemerintah bahwa ada pergeseran atau gaya hidup baru masyarakat dari manual ke e-commerce untuk mencari alasan menutupi kegagalan dalam mengontrol inflate keuangan negara. Persepsi ini tentu tidak bisa dikatakan benar seluruhnya.

Kuncinya, pelaku retail offline harus melakukan adaptasi dengan cepat, hal ini pula yang diterapkan pada Matahari dengan mengakomodasi layanan online melalui Mataharimall.com. Kalau tidak tentunya akan susah untuk mengikutinya.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memperkirakan jumlah uang yang dibelanjakan masyarakat di bisnis online mencapai Rp75 triliun per tahun. Hal ini disebabkan adanya pergeseran pola belanja masyarakat, dari toko ritel ke belanja online.

“Selama setahun terakhir para pengguna internet tersebut telah membelanjakan uang USD5,6 miliar atau Rp75 triliun di berbagai e-commerce,” kata dia.

Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo pun sudah mewaspadai kehadiran bisnis online. Untuk itu, dia meminta anak buahnya terjun langsung untuk mengamati pergerakan bisnis online.

Jokowi menegaskan, dirinya tak menolak adanya perkembangan teknologi tersebut. Namun masyarakat dan pemerintah harus merespon agar bisa dimanfaatkan seluas-luasnya. Jangan sampai teknologi informasi yang berbasis online ini tidak diimbangi oleh kebijakan pemerintah yang tepat, sehingga Indonesia akan semakin ketinggalan.

Sementara dengan besarnya potensi ekonomi digital Tanah Air membuat perusahaan lokal ikut memasarkan barang-barangnya lewat online. Salah satunya adalah PT Sarinah, perusahaan ritel pelat merah ini akan meluncurkan situs belanja online, sarinah.store untuk mengejar ketertinggalan dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan melambatnya pertumbuhan industri ritel Tanah Air disebabkan adanya pergeseran gaya hidup baru yaitu dari offline ke online.

“Insya Allah Sarinah akan buka platform gerai online ya ini kita akan bulan ini mulai launching sarinah.store. Jadi semua bisa melihat Sarinah di genggaman,” ujar Direktur Utama PT Sarinah, Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis (17/8).

Sementara itu, CEO Sogo Departemen Store, Handaka Santosa, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak didorong oleh konsumsi domestik. Sehingga, masih ada peluang bagi ritel konvensional untuk tetap bertahan di tengah pesatnya perkembangan bisnis online.

“Ya sebetulnya kalau dicermati lebih dalam, pertumbuhan ekonomi kita didorong konsumsi domestik. Sebenarnya bisnis ritel tidak ada matinya selama tahu yang diinginkan pelanggan,” kata Handaka di Hotel Ibis, Jakarta, Rabu (1/11).

Selain itu, dia juga meminta agar pemerintah bisa memberikan perlakuan yang sama terhadap ritel konvensional maupun ritel online. Salah satunya dengan mengeluarkan peraturan yang mengatur keberadaan bisnis online, sehingga semuanya bisa tertata dengan benar dan tidak ada kerugian dari salah satu pihak.

Isu menurunnya daya beli masyarakat ini memang menjadi isu seksi oleh pihak oposisi. Maka tak heran, banyak pihak yang memanfaatkan isu tersbut untuk mendseskriditkan pemerintah dengan menyebarkan informasi secara tendensius dan tidak disertai dengan data dan analisa yang memadai.

Saat ini adalah bagaimana kita saling bergandengan membangun ekonomi bangsa ini menjadi kuat dan dipandang oleh dunia.