Bahaya Luar Biasa Bermain Isu Agama



435 Views

Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto kerap dicibir sebagai pemeluk Nasrani. Meskipun ia telah menepis kabar tersebut, membuktikan sebagai pemeluk Islam dengan salat Jumat, masih saja tudingan pemimpin non-muslim tak kunjung henti menyasarnya.

Prabowo adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Dua kakaknya, yakni Biantiningsih dan Maryani, ikut agama suami mereka yang Katolik. Sedangkan adik bungsunya, Hashim Djojohadikusumo beragama Kristen. Mereka berempat lahir dari rahim seorang ibu berdarah Manado dan beragama Kristen, Dora Sigar.

Orasi politik yang membawa jargon agama merupakan bagian dari upaya pengkultusan figur pemimpin dalam diri Prabowo oleh pendukungnya. Namun ada pula yang menyebut Prabowo sebagai titisan Tuhan, serta mengatakan bila ingin masuk surga bisa meminta ke Allah dan Rasul, dan meminta ke Prabowo dan Sandiaga Uno.

Dalam video yang sempat viral beberapa tahun lalu, pendukung Prabowo-Hatta (tahun 2014), yang diketahui bernama Dr. Nurcahaya Tandang menyebut Prabowo sebagai titisan Allah SWT.

“Bukan cuma jihad, bukan cuma jihad nasionalisme. Kita tidak mendukung hanya Pak Prabowo, tetapi misi besar yang disung oleh Pak Prabowo sebagai titisan Allah SWT, sehingga kita berjuang bukan hanya sekadar mengusung Pak Prabowo tetapi mengusung kejujuran, kebenaran Pancasila menegakkan demokrasi Pancasila UUD 1945. Trisakti Bung Karno harus kita kembalikan,” kata Nurcahaya dalam orasinya yang terdapat di kanal YouTube akun Belang Jazz.

Hal kontroversi juga diucap oleh juru bicara Persaudaran Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin yang menyampaikan doa dalam acara deklarasi ‘Perempuan Prabowo’ mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebelum berdoa, Novel berbicara soal ‘kunci’ masuk surga.

“Bu, mau masuk surga? Pinta sama Allah, pinta sama Rasulullah, pinta sama Prabowo, pinta sama Sandiaga Uno. Betul? Takbir. Insyaallah masuk surga,” kata Novel, di Jakarta, tahun lalu.

Menurut Pengamat Politik LIPI Wasisto Raharjo Jati, orasi politik yang membawa jargon agama merupakan bagian dari upaya pengkultusan figur pemimpin dalam diri Prabowo oleh pendukungnya. Hal itu dilakukan oleh pendukung fanatiknya agar sosok Prabowo terkesan lebih Islami.

“Islam fanatik dukung Prabowo ini, karena Jokowi lebih merangkul Nadhlatul Ulama daripada mereka. Sehingga, dukungan ke Prabowo itu bagian dari upaya menjaga kans ke arah kekuasaan,” kata Wasisto dalam keterangan tertulis yang diterima Tagar News, Sabtu (16/3).

Sepengamatan Wasisto, dalam konteks ini Prabowo tidak melabeli dirinya sebagai tokoh muslim, meskipun ia didukung oleh hasil Ijtimak Ulama II. Sebenarnya, kata dia, mantan suami Titiek Soeharto justru lebih mengidentifikasikan diri sebagai figur pemimpin yang nasionalis ketimbang agamais.

“Itu bagian dari upaya pengkultusan figur bahwa Prabowo itu orang hebat yang bisa menyelamatkan negeri. Hal itu sebenarnya kalau bicara konteks masa lalu, itu bagian upaya mencari legitimasi kultural dan teologis,” urai Wasisto.

Jika sudah kadung fanatis terhadap salah satu paslon, maka hal benar pun bisa menjadi salah.

“Saya pikir masing-masing kubu sudah punya loyalis sehingga kalau semakin dilawan, maka akan semakin resisten. Ya, fanatisme berbasis figur itu kalau untuk urusan politik praktis, itu cuma sementara saja karena peta dukungan akar rumput juga tidak ditentukan organisasi tertentu,” sambungnya.

Wasisto mengkhawatirkan fanatisme yang berlebihan dalam mendukung salah satu paslon, justru dapat memancing ekstrimisme bila dibiarkan.

“Fanatisme berlebihan itu mengkhawatirkan karena sama saja tidak adil dalam pikiran dan perbuatan. Itu bisa memancing adanya aksi ekstrimisme kalau dibiarkan,” tandasnya.

Ia melihat, dalam pilpres ini kental dengan aroma psywar saling serang dan saling tuding menggunakan isu agama untuk menyerang lawan politik. Jika sudah kadung fanatis terhadap salah satu paslon, maka hal benar pun bisa menjadi salah.

Contohnya seperti keberhasilan pembangunan yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo, seakan kubu oposan enggan mengakui keberhasilan kinerja capres incumbent.

“Ekstrimismenya mungkin lebih pada intensitas penggunaan isu agama dan identitas untuk menyerang Jokowi. Saya pikir kalau namanya sudah loyalis tentu berpikir hitam dan putih. Dalam hal ini Jokowi akan terus dilabel ‘hitam’,” ujar Wasisto.