Azyumardi Azra : Hanya Ulama Partisan yang Menyebut Aksi 22 Mei Sebagai Jihad



585 Views

Jakarta – Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra menilai hanya ulama partisan yang mengajak aksi jihad 22 Mei mendatang. Menurut dia, ulama mestinya mampu menenangkan umat alih-alih mengajak pada kegiatan yang diklaim sebagai jihad tersebut.

“Kalau ada yang bilang 22 Mei itu jihad saya kira itu ulama yang partisan ke pihak tertentu. Itu sikap yang enggak bijak,” ujar Azyumardi saat ditemui di istana wakil presiden, Jakarta, Senin (20/5).

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan, aksi turun ke jalan pada 22 Mei tak lebih dari ekspresi hawa nafsu. Padahal esensi dari bulan Ramadan adalah menahan hawa nafsu.

“Jadi saya kira ulama seperti itu tidak perlu didengar. Yang perlu didengar itu ulama netral, berpihak pada kepentingan umat, negara,” katanya.

Ia mengapresiasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dan pimpinan Muhammadiyah Haedar Nashir yang telah mengimbau umatnya agar tak mengikuti kegiatan tersebut. Sesuai UU, kata dia, telah ada mekanisme resmi jika tak terima dengan hasil akhir pemilu.

“Jadi biarkan lembaga yang sesuai UU melaksanakan tugasnya dengan baik. Dalam hal ini KPU, Bawaslu, MK, jadi enggak usah mengerahkan massa apalagi atas nama jihad,” ucapnya.

Azyumardi menilai istilah yang digunakan untuk aksi tersebut telah menyalahi makna jihad. Menurut dia, penggunaan kata jihad itu tak lebih dari pernyataan politik dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Itu bukan jihad. Klaim atas nama ulama menyerukan jihad 22 Mei itu harus ditolak. Dengan menggunakan istilah jihad itu mempolitisasi agama,” tuturnya.

Sesuai jadwal Pemilu 2019, KPU akan menyelesaikan dan menetapkan perhitungan suara tingkat nasional pada 22 Mei mendatang. Menyikapi agenda tersebut, sejumlah pihak yang terkait dengan Pilpres 2019 ingin menggelar aksi pada hari itu.

Salah satunya Front Pembela Islam (FPI) yang berencana mengadakan acara buka puasa bersama atau iftar di depan kantor KPU. Acara buka puasa bersama juga sekaligus menuntut KPU agar tidak mengumumkan hasil Pemilu 2019 lantaran dinilai sarat dengan dugaan kecurangan.

Di lain pihak, kelompok aktivis ’98 juga berencana berkumpul di depan kantor KPU pada hari yang sama. Mereka ingin mengawal perhitungan suara yang dilakukan KPU hingga selesai.

Sementara itu, gelombang aksi juga bakal datang dari massa yang mengatasnamakan Gerakan Kedaulatan Rakyat. Massa tersebut merupakan simpul massa yang dikomandoi sejumlah nama yang terafiliasi barisan pendukung Prabowo-Sandi. Mereka di antaranya adalah Eggi Sudjana, Lieus Sungkharisma, Amien Rais, Bachtiar Nasir hingga Kivlan Zen.